Blogger Widgets
News Update :

`

`

PUTUS SEKOLAH Vs HOME VISIT

Kamis, 12 Oktober 2017

Tentunya kita sangat beruntung jika bisa menyelesaikan pendidikan setidaknya jenjang SMA, bahkan sebagian besar sudah bergelar sarjana. Bandingkan dengan nasib apes anak-anak disekeliling kita; yang terpaksa putus sekolah karena orangtua tak mampu atau karena mereka frustasi dengan adanya tindakan tidak ramah anak. Padahal salah satu isi amanat UUD 1945, negara Indonesia mempunyai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, 71 tahun kemerdekaan RI, segenap bangsa Indonesia masih ada yang belum mengenyam dunia formal dengan selayaknya. Wajib belajar 9 tahun merupakan program yang sangat bagus dari pemerintah untuk mencapai itu. Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pengentasan program tersebut baik dari pemerintah, praktisi ataupun masyarakat. Bayangkan, data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). (https://students.cnnindonesia.com>edukasi) Alangkah ironisnya, menganalisis data tersebut angka putus sekolah usia sekolah dasar masihlah tinggi jika dihubungkan dengan agenda nasional dan amanat UUD 1945. Hal ini disebabkan bahwa putus sekolah tidaklah melulu karna faktor ekonomi. Para praktisi akan segera bergabung dalam upaya menangulangi putus sekolah. Pemerintah sudah punya banyak solusi untuk membantu mengentaskan ini yang di brackdown ke lembaga formal atau sekolah seperti membuat jurnal, profile tentang masing-masing anak. Salah satunya, dengan mengembangkan program berupa homevisit. Home visit salah satunyauntuk mengenali dan mengefektifkan program berdasarkan pengkajian lebih dalam kondisi siswa atau anak usia sekolah dasar. Harapannya, home visit dapat memberikan data objektif untuk masing-masing kondisi anak, serta ada kedekatan antara praktisi dan anak didik. Disisi lain orang tua juga merasa nyaman karena diajak ngobrol, bukan lagi dipanggil dengan resmi karena divonis kekurangan atau kendala-kendala anak. Pendidikan formal memang bukan segala-galanya. Pengusaha besar Indonesia misalnya konglomerat Liem Sioe Liong, hanya lulusan sekolah dasar. Atau Bob sadino juga bukan sarjana. Akan tetapi, orang bersekolah formal maupun non formal bertujuan agar mampu berpikir, menalar rasional objekif, bertambah kapasitas keterampilan hidupnya sehingga dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya. Faktanya sangat mutlak peluang kerja dipengaruhi tingkat pendidikan. Tingkat salary dan fasilitas dapat dinikmati; menentukan pula terhadap perilaku individu dalam rumahtangga, tanggung jawab sosial bahkan bobot independensi individu di bidang sosial politik. Benarkah karena ketidakberpihakan faktor ekonomi atau sistem? Putus sekolah adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Artinya terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai (Musfiqon, 2007:19). Anak didik juga memiliki kondisi yang sangat beragam. Secara dirinya ada yang berasal dari keluarga ekonomi kebawah, atau orang tuanya yang tidak support dengan kelebihan dan kekurangan anak. Anak yang mendapat nilai rendah kemudian dicap bodoh temannya, sehinga mereka malu untuk sekolah lagi. Tidak hanya di pelosok anak minim fasilitas sekolah formal bahkan di kota pun seperti itu. Program pemerintah malah sangat support dengan menggratiskan biaya pendidikan dasar.Pemerintah juga sangat gencar-gencarnya mengalokasikan anggaran untuk memperkecil kesenjangan akses pendidikan kalangan kurang mampu. Tidak hanya gratis tetapi juga memperoleh tambahan dana melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dengan instrumen Kartu Indonesia Pintar (KIP). Disatu sisi lain anak jalanan bukan karena mereka tidak mampu ekonomi, padahal tingkat Sekolah Dasar itu gratis, tetapi mereka putus sekolah atau tidak sekolah karna minimnya minat untuk mengenyam pendidikan formal. Tidak perlu menjadi ahli sosiologi kalau memahami kondisi ini. Makin banyak putus sekolah makin bergentayangan mereka di jalanan baik menjadi pengamen dan profesi jalanan lainnya. Ya, kalau mereka terwadahi komunitas yang cukup menguatkan moral, sehingga akan menjadi kendali. Jika tidak, anak-anak yang hidup dijalanan itu juga sangat potensial disalahgunakan oleh kejahatan yang terorganisir. Tantangan bertahan hidup dan godaan gaya hidup mewah adalah zona rawan teenager yang masih labil, sehingga mereka mudah melakukan tindak kriminal atau kekerasan seksual anak. Sistem seperti apa? Apakah pemerintah diam saja? Tentu tidak. Program KIP dan PIP sangat cukup solutif. Namun, mengurusi manusian itu bukan hanya dengan sistem atau program, tetapi kembali pada pelaksana program. Pelaksana program bisa dari konselor sekolah, guru atau kepala sekolah. Kebutuhan anak didik tidak sekedar diajari belajar membaca menulis dan berhitung. Akan tetapi, mereka juga membutuhkan lingkungan yang ramah anak, sehingga jiwa raga mereka bisa tumbuh dengan baik. Hal ini dikarenakan mereka memiliki latar belakang keluarga yang beragam. Lingkungan ramah anak sangat diperlukan untuk memenuhi 4 hak dasar dan 31 hak wajib yang dimana WNI wajib melaksanakan dan melindungi hak tersebut. Hak dasar anak; hak untuk hidup, hak untuk berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan dan hak untuk berpartisipasi. Sekolah yang ramah anak minimal menfasilitasi 4 hak dasar anak. Siapa pelakunya? Jelas guru dan pemangku kebijakan sekolah bekerjasama dengan orang tua.Darimana data yang otentik dan objektif tentang kondisi latar belakang siswa di dapat? Tentu dari data awal masuk pendaftaran, wawancara orang tua serta membudayakan home visit. Home visit dilakukan minimal satu semester 1 kali untuk satu siswa dari data kunjungan itu untuk menuangkan di jurnal dan profil anak. Manfaat sekali ketika anak naik kelas dan ganti guru. Guru bisa membaca perkembangan di kelas sebelumnya. Sehingga untuk melakukan up grade assesment bisa lebih cepat. SD Juara Yogyakarta, sekolah gratis untuk anak sekolah dasar bahkan untuk komite tidak ada punggutan kegiatan ekstra atau penunjang lainnya, mempunyai tantangan anak didik yang beragam latar pendidikan orang tua. Bahkan pernah ada siswa dari keluarga jalanan yang tidak kenal nikah, hanya kawin saja. Saat diterima disekolah orang tua tidak mendukung anak untuk sekolah. Akan tetapi, guru rutin melakukan home visit sampai akhirnya orang tua luluh dan terbuka. Namun, tidak sampai disitu ditahun ke empat orang tua enggan mengantar si anak. Akhirnya sekolah pun memberikan fasilitas antar jemput. Sebenarnya SD Juara bukan lah yang pertama melakukan home visit, tetapi ini sangat signifikan untuk latar belakang orang tua yang tidak semuanya berpendidikan. Periode terbaru, sebanyak 30 persen anak didik periode Juli sampai awal Oktober 2017 untuk kunjungan ke rumah. Tidak dapat dipungkiri dengan radius jarak rumah siswa yang beragam tentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sehingga, tidak melulu berupa kunjungan ke rumah, tetapi bisa berupa personal visit. Personal visit perlu dilakukan untuk memback-up kelengkapan data di jurnal. Guru ngobrol dengan orang tua saat menjemput atau mengantar anak. Ngobrol memberikan efek lebih terlihat dekat dan merakyat dibanding konsultasi. Keefektivan program ini adanya kelekatan oarng tua dengan guru. Siswa pun terpenuhi 4 hak dasar anak. Dari 30 persen itu, diutamakan anak-anak yang berlatar belakang broken home, atau tidak diasuh orang tua, korban dari hamil diluar nikah. Karena kondisi kesehatan keluarga sangat berpengaruh terhadap minat dan mood serta ketenangan anak didik di sekolah. Home visit membuktikan beberapa anak didik SD Juara Jogja yang awalnya di cap nakal, atau jarang masuk bahkan enggan masuk mampu menghantarkan dari anak yang bermasalah itu mencapai beberapa prestasi akademik. Salah satunya Mas Zizi yang mampu mengukir prestasi olahraga beladiri dan pencak silat dengan mendapatkan Juara 2. Semangat nya untuk maju di POPDA dan POPNAS sangat membara. Bahkan ia berujar ke guru olahraga, “Menjadi lebih baik ternyata menyenangkan ya..” dari 30 persen yang di home visit, 5 persen nya berprestasi di bidang lukis dan lomba tartil. 20 persen muncul kembali semangat bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. 5 persennya mengikuti kejar paket karena umur sudah 13 tahun serta ABK. Perlahan tapi pasti progress anak didik orang tua dapat nyaman dengan sistem sekolah. Hal ini menyebabkan munculnya trus, dan daya resiliensi terhadap anak itu sendiri untuk mencoba bertahan. Tentu homevisit tidak hanya dilakukan oleh guru pendidikan formal tetapi juga pendidikan luar sekolah bisa menerapkannya. Alhasil memeratakan pendidikan yang ramah anak dan keamanan kenyamanan anak dalam menimba ilmu bisa terwujud lebih efektif. Suranti, S.Pd SD Juara Yogya
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga