Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Siswa Kelas Lima Belajar Menyablon

Minggu, 15 Oktober 2017

pelajaraan SBK siswa kelas 5 belajar menyablon gelas di ruang kelas. Pelajaraan ini bersinergi dengan salah satu wali murid yang memiliki usaha sablon yg bernama bapak Jibril. Pada tahap pertama siswa dijelaskan proses sablon yg meliputi cara membuat scrol, pewarnaan , penempelan gambar dan pencetakan. Semua siswa dengan antusias mengikuti pelajaran ini dan setiap siswa mencoba menyablon gelas masing- masing yang dibawa dari rumah. Melalui pembelajaraan ini diharapkan menambah skill siswa yg dapat dijadikan bekal kehipanya kelak. Kontributor : siti khotimatul mahmudah

PUTUS SEKOLAH Vs HOME VISIT

Kamis, 12 Oktober 2017

Tentunya kita sangat beruntung jika bisa menyelesaikan pendidikan setidaknya jenjang SMA, bahkan sebagian besar sudah bergelar sarjana. Bandingkan dengan nasib apes anak-anak disekeliling kita; yang terpaksa putus sekolah karena orangtua tak mampu atau karena mereka frustasi dengan adanya tindakan tidak ramah anak. Padahal salah satu isi amanat UUD 1945, negara Indonesia mempunyai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, 71 tahun kemerdekaan RI, segenap bangsa Indonesia masih ada yang belum mengenyam dunia formal dengan selayaknya. Wajib belajar 9 tahun merupakan program yang sangat bagus dari pemerintah untuk mencapai itu. Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mewujudkan pengentasan program tersebut baik dari pemerintah, praktisi ataupun masyarakat. Bayangkan, data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). (https://students.cnnindonesia.com>edukasi) Alangkah ironisnya, menganalisis data tersebut angka putus sekolah usia sekolah dasar masihlah tinggi jika dihubungkan dengan agenda nasional dan amanat UUD 1945. Hal ini disebabkan bahwa putus sekolah tidaklah melulu karna faktor ekonomi. Para praktisi akan segera bergabung dalam upaya menangulangi putus sekolah. Pemerintah sudah punya banyak solusi untuk membantu mengentaskan ini yang di brackdown ke lembaga formal atau sekolah seperti membuat jurnal, profile tentang masing-masing anak. Salah satunya, dengan mengembangkan program berupa homevisit. Home visit salah satunyauntuk mengenali dan mengefektifkan program berdasarkan pengkajian lebih dalam kondisi siswa atau anak usia sekolah dasar. Harapannya, home visit dapat memberikan data objektif untuk masing-masing kondisi anak, serta ada kedekatan antara praktisi dan anak didik. Disisi lain orang tua juga merasa nyaman karena diajak ngobrol, bukan lagi dipanggil dengan resmi karena divonis kekurangan atau kendala-kendala anak. Pendidikan formal memang bukan segala-galanya. Pengusaha besar Indonesia misalnya konglomerat Liem Sioe Liong, hanya lulusan sekolah dasar. Atau Bob sadino juga bukan sarjana. Akan tetapi, orang bersekolah formal maupun non formal bertujuan agar mampu berpikir, menalar rasional objekif, bertambah kapasitas keterampilan hidupnya sehingga dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya. Faktanya sangat mutlak peluang kerja dipengaruhi tingkat pendidikan. Tingkat salary dan fasilitas dapat dinikmati; menentukan pula terhadap perilaku individu dalam rumahtangga, tanggung jawab sosial bahkan bobot independensi individu di bidang sosial politik. Benarkah karena ketidakberpihakan faktor ekonomi atau sistem? Putus sekolah adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Artinya terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai (Musfiqon, 2007:19). Anak didik juga memiliki kondisi yang sangat beragam. Secara dirinya ada yang berasal dari keluarga ekonomi kebawah, atau orang tuanya yang tidak support dengan kelebihan dan kekurangan anak. Anak yang mendapat nilai rendah kemudian dicap bodoh temannya, sehinga mereka malu untuk sekolah lagi. Tidak hanya di pelosok anak minim fasilitas sekolah formal bahkan di kota pun seperti itu. Program pemerintah malah sangat support dengan menggratiskan biaya pendidikan dasar.Pemerintah juga sangat gencar-gencarnya mengalokasikan anggaran untuk memperkecil kesenjangan akses pendidikan kalangan kurang mampu. Tidak hanya gratis tetapi juga memperoleh tambahan dana melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dengan instrumen Kartu Indonesia Pintar (KIP). Disatu sisi lain anak jalanan bukan karena mereka tidak mampu ekonomi, padahal tingkat Sekolah Dasar itu gratis, tetapi mereka putus sekolah atau tidak sekolah karna minimnya minat untuk mengenyam pendidikan formal. Tidak perlu menjadi ahli sosiologi kalau memahami kondisi ini. Makin banyak putus sekolah makin bergentayangan mereka di jalanan baik menjadi pengamen dan profesi jalanan lainnya. Ya, kalau mereka terwadahi komunitas yang cukup menguatkan moral, sehingga akan menjadi kendali. Jika tidak, anak-anak yang hidup dijalanan itu juga sangat potensial disalahgunakan oleh kejahatan yang terorganisir. Tantangan bertahan hidup dan godaan gaya hidup mewah adalah zona rawan teenager yang masih labil, sehingga mereka mudah melakukan tindak kriminal atau kekerasan seksual anak. Sistem seperti apa? Apakah pemerintah diam saja? Tentu tidak. Program KIP dan PIP sangat cukup solutif. Namun, mengurusi manusian itu bukan hanya dengan sistem atau program, tetapi kembali pada pelaksana program. Pelaksana program bisa dari konselor sekolah, guru atau kepala sekolah. Kebutuhan anak didik tidak sekedar diajari belajar membaca menulis dan berhitung. Akan tetapi, mereka juga membutuhkan lingkungan yang ramah anak, sehingga jiwa raga mereka bisa tumbuh dengan baik. Hal ini dikarenakan mereka memiliki latar belakang keluarga yang beragam. Lingkungan ramah anak sangat diperlukan untuk memenuhi 4 hak dasar dan 31 hak wajib yang dimana WNI wajib melaksanakan dan melindungi hak tersebut. Hak dasar anak; hak untuk hidup, hak untuk berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan dan hak untuk berpartisipasi. Sekolah yang ramah anak minimal menfasilitasi 4 hak dasar anak. Siapa pelakunya? Jelas guru dan pemangku kebijakan sekolah bekerjasama dengan orang tua.Darimana data yang otentik dan objektif tentang kondisi latar belakang siswa di dapat? Tentu dari data awal masuk pendaftaran, wawancara orang tua serta membudayakan home visit. Home visit dilakukan minimal satu semester 1 kali untuk satu siswa dari data kunjungan itu untuk menuangkan di jurnal dan profil anak. Manfaat sekali ketika anak naik kelas dan ganti guru. Guru bisa membaca perkembangan di kelas sebelumnya. Sehingga untuk melakukan up grade assesment bisa lebih cepat. SD Juara Yogyakarta, sekolah gratis untuk anak sekolah dasar bahkan untuk komite tidak ada punggutan kegiatan ekstra atau penunjang lainnya, mempunyai tantangan anak didik yang beragam latar pendidikan orang tua. Bahkan pernah ada siswa dari keluarga jalanan yang tidak kenal nikah, hanya kawin saja. Saat diterima disekolah orang tua tidak mendukung anak untuk sekolah. Akan tetapi, guru rutin melakukan home visit sampai akhirnya orang tua luluh dan terbuka. Namun, tidak sampai disitu ditahun ke empat orang tua enggan mengantar si anak. Akhirnya sekolah pun memberikan fasilitas antar jemput. Sebenarnya SD Juara bukan lah yang pertama melakukan home visit, tetapi ini sangat signifikan untuk latar belakang orang tua yang tidak semuanya berpendidikan. Periode terbaru, sebanyak 30 persen anak didik periode Juli sampai awal Oktober 2017 untuk kunjungan ke rumah. Tidak dapat dipungkiri dengan radius jarak rumah siswa yang beragam tentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sehingga, tidak melulu berupa kunjungan ke rumah, tetapi bisa berupa personal visit. Personal visit perlu dilakukan untuk memback-up kelengkapan data di jurnal. Guru ngobrol dengan orang tua saat menjemput atau mengantar anak. Ngobrol memberikan efek lebih terlihat dekat dan merakyat dibanding konsultasi. Keefektivan program ini adanya kelekatan oarng tua dengan guru. Siswa pun terpenuhi 4 hak dasar anak. Dari 30 persen itu, diutamakan anak-anak yang berlatar belakang broken home, atau tidak diasuh orang tua, korban dari hamil diluar nikah. Karena kondisi kesehatan keluarga sangat berpengaruh terhadap minat dan mood serta ketenangan anak didik di sekolah. Home visit membuktikan beberapa anak didik SD Juara Jogja yang awalnya di cap nakal, atau jarang masuk bahkan enggan masuk mampu menghantarkan dari anak yang bermasalah itu mencapai beberapa prestasi akademik. Salah satunya Mas Zizi yang mampu mengukir prestasi olahraga beladiri dan pencak silat dengan mendapatkan Juara 2. Semangat nya untuk maju di POPDA dan POPNAS sangat membara. Bahkan ia berujar ke guru olahraga, “Menjadi lebih baik ternyata menyenangkan ya..” dari 30 persen yang di home visit, 5 persen nya berprestasi di bidang lukis dan lomba tartil. 20 persen muncul kembali semangat bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. 5 persennya mengikuti kejar paket karena umur sudah 13 tahun serta ABK. Perlahan tapi pasti progress anak didik orang tua dapat nyaman dengan sistem sekolah. Hal ini menyebabkan munculnya trus, dan daya resiliensi terhadap anak itu sendiri untuk mencoba bertahan. Tentu homevisit tidak hanya dilakukan oleh guru pendidikan formal tetapi juga pendidikan luar sekolah bisa menerapkannya. Alhasil memeratakan pendidikan yang ramah anak dan keamanan kenyamanan anak dalam menimba ilmu bisa terwujud lebih efektif. Suranti, S.Pd SD Juara Yogya

Memanfaatkan Sampah Plastik dan Botol Bekas dengan Membuat Ecobike

Jumat, 06 Oktober 2017

Yogya, Sampah plastik merupakan sampah non organik yang tidak dapat teruraikan secara alami, dan menjadi sebuah permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh sebab memiliki dampak pencemaran lingkungan yang paling tinggi. Begitu pula dengan botol bekas air minum yang merupakan tergolong sebagai sampah yang tidak dapat teruraikan. Beranjak dari permasalahan itu lah bapak aris nurkholis wali kelas empat mengajak siswa kelas empat untuk memanfaatkan sampah tersebut dengan membuat ecobike yaitu dengan memasukkan sampah-sampah plastik kedalam botol hingga penuh kemudian ditutup. Pada Jumat ceria Pak aris menuturkan bahwa untuk satu botol bekas air minum ukuran 600 ml air bisa menampung satu bagor sampah plastik”. Selain dapat mrenampung sampah plastik banyak botol yang berisi sampah plastik ini pun kokoh dan kuat, hingga diinjak siswa yang beratnya 65 kg pun tidak rusak serta dapat dimanfaatkan untuk pot, tempat duduk maupun meja. Saat ini siswa kelas empat tengah membuat pot dari ecobik itu, caranya dengan menempelkan satu botol kebotol lainnya dengan menggunakan lem tembak. Mari kita jaga bumi kita dengan mendaur ulang sampah non organik.

Fieldtrip siswa kelas dua di lava bantal

Lagi, para petualang cilik dari sekolah Juara Yogyakarta mengajak kita semua untuk mentadaburi ayat ayat kauniyah yang ada di hadapan. Kali mereka berpetualang di sekitar Lava Bantal. Sebuah kawasan wisata edukatif yang terletak di dusun Berbah, Sleman, Yogyakrta. Petualangan mereka diawali dengan berjalan selama 5 menit dan mereka sendiri yang mantengin jam dinding yang dibawa oleh ibu Budi apakah mereka sudah berjalan lima menit atau belum. Setelah itu mereka berjalan kembali selama 10 menit. Dan lagi mereka sendiri yang mengingatkan waktunya karena mereka sedang belajar tentang jam dan waktu. Sessi berikutnya adalah pengamalan "Ilmu meringankan tubuh". Anak diminta untuk berjalan dengan tenang dan tidak menimbulkan suara, termasuk sandal mereka. Dan suasana pun mendadak hening. Ini sebagai bentuk upaya untuk mereka berlatih tenang karena kesehariannya mereka sangat atraktif dan aktif. Dari sini mereka tahu bahwa ternyata mereka juga bisa tenang. Dan ternyata juga mereka jadi bisa merasakan ternyata tenang itu nyaman. kegiatan dilanjutkan dengan mengundang tokoh, pak suradi namanya. Dari beliau anak anak mengenal berbagai nama pohon dan umurnya, mereka dapat membedakan pohon jati yang berumur 20an tahun dengan yang 80an tahun. Dengan menggunakan metlin mereka mengukur lingkar pohon dan mentaksir berapa tinggi pohon dengan cara memanjat pohon. seru... Dari pak suradi juga mereka mengenal sapi. Sapi yang dimiliki pak suradi ternyata sapi jenis Lemosin. Sesuai dengan namanya ukurannya juga lebih besar dari sapi biasa. Mereka jadi tahu bahwa sapi lemosin bukan hanya makan rumput tapi juga makan jerami dan minum wedang jahe juga seperti manusia. Biar sehat, begitu cerita pak Suradi. Sessi berikutnya mereka menuju sungai Lava Bantal, ini yang mereka tunggu tunggu. Setelah mengenakan pelampung mereka pun akhirnya menyantu dengan aliran sungai yang jernih dan menyegarkan. Setelah beberapa saat mereka merasakan nikmatnya bercengkrama dengan air, mereka diminta "mendarat" sebentar untuk menyerap value yang teramat penting, yakni menjaga alam. Disini mereka belajar tentang berbagai ragam benda, yakni benda padat dan cair. Di atas batu lava mereka merasakan betapa Allah Maha Agung, Lava yang super panas ternyata juga bisa dingin dan mengeras atas kuasa Allah. Sessi terakhir, mereka boleh berpesta air lagi . tapi ada paswordnya.... Membuat kalimat ajakan. itu dia...maka satu persatu mereka nyemplung kembali ke sungai setelah mereka membuat kalimat satu kalimat ajakan. "Mari nyempung...", mereka pun nyemplung. Selamat berbahagia Nak...

Siswa Kelas 4-6 SD Juara Yogyakarta Nobar G30SPKI Bersama Guru dan Bapak Koramil

Kamis, 28 September 2017

Yogya, 29 september 2017, Peristiwa G30S/PKI merupakan babak sejarah paling abu-abu di tanah air Indonesia dimana para jendral,para ulama,para santri menjadi kekejaman partai komunis indonesia. Untuk mengingatkan sejarah kelam ini, sd juara bersinergi dengan koramil baciro mengadakan nobar G30SPKI di aula bersama siswa kelas 4-6 yang sebelumnya film ini telah diedit terlebih dahulu. Sebelum nobar siswa di beri pengarahan oleh pak amir berupa pengenalan G30SPKI itu apa? dan untuk apa sih kita nobar G30SPKI? selain itu pak amir juga menegaskan bahaya PKI/Partai Komunis Indonesia bagi bangsa indonesia. Pemutaran film yang berdurasi satu jam ini cukup menyita perhatian siswa. "Ternyata partai komunis itu menakutkan ya bu,jadi tahu perjuangan pahlawan dulu mempertahankan indonesia" kata mbk oliv siswa kelas 6 saat ditanya pendapatnya tentang nobar film G30SPKI. Pak sugeng sebagai perwakilan koramil kelurahan baciro menyampaikan kepada siswa bahwa film ini merupakan bukti sejarah kelam PKI yang wajib diketahui oleh siswa agar tidak terulang kembali. Diakhir nobar siswa kelas 4-6 berfoto bersama bapak korawil.

TAMANISASI SD JUARA YOGYAKARTA

Jumat, 22 September 2017

Seluruh siswa kelas 1-6 SD Juara yogyakarta beserta bapak/ibu guru melakukan tamanisasi, tamanisasi ini merupakan salah satu wujud dari program adiwiyata dan SD Juara yogyakarta merupakan sd imbas adiwiyata dengan sekolah induk sd unggaran. Kegiatan tamanisasi ini berlangsung setelah sholat dhuha berjamaah dan diakhiri pukul 11.00 wib. adapun pembagian tamanisasi ini yaitu siswa kelas 1 di sekitar depan kelas, siswa kelas 2 di lantai atas depan kelas, siswa kelas 3 di sekitar depan kantin, siswa kelas 4 di lantai atas depan kelas dan tangga, siswa kelas 5 di lantai atas depan kelas dan sekitar tangga serta kelas 6 di sekitar halaman barat masjid. Sebelum proses tamanisasi berlangsung setiap kelas siswa diberi instruksi oleh masing-masing wali kelasnya dan sebelum proses tamanisasi terlihat tanaman dalam setiap pot kering dan tanahnya berkurang, kemudian saat proses tamanisasi berlangsung siswa memisahkan, menambah media tanam dan menyiramnya serta merapikan dan membersihkan dengan cara di sapu. Selain itu, siswa kelas enam juga diminta menyelesaikan pembuatan pot dari botol bekas. Selama proses tamanisasi ini berlangsung seluruh siswa dan guru terlihat sangat antusias. Kegiatan ini dilakukan tidak lain agar terlihat indah,asri dan sejuk serta dapat mengatasi kebisingan mengingat lokasi SD Juara yogyakarta dekat dengan jalan raya.

Longmarch Siswa Kelas 4-6 SD juara Yogyakarta

Rabu, 20 September 2017

Longmarch merupakan salah satu agenda rutin yang dilakukan oleh SD Juara yogyakarta yngbertujuan untuk melatih siswa dalam hal kedisiplinan, daya juang, dan kerjasama, agar didalam diri setiap siswa terdapat sikap saling menghormati, saling menjaga dan saling berteloransi. Dan pada kesempatan longmarch kali ini diikuti oleh siswa kelas 4-6 dengan pendamping 8 guru, serta lokasi yang digunakan yaitu di hutan pinus asri imogiri bantul. Kegiatn longmarch ini merupakan serangkain dari mabit dihari sebelumnya. Siswa berangkat ke lokasi pukul 06.00 wib dan pulang pukul 15.30 wib. kegiatan ini mengajak siswa untuk mentadaburi alam dan selalu bersyukur atas segala nikmat dan anugrah yang telah allah berikan. Melalui medan yang terjal dan melelahkan membuat siswa untuk terus berjuang dan bertahan hingga mencapai garis finish.

Mabit Siswa kelas 4, 5 dan 6 SD Juara Yogyakarta

Selasa, 19 September 2017

Untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai ruhiyah dan menumbuhkan motivasi belajar SD Juara Yogyakarta pada hari Selasa/19 September 2017 mengadakan malam bina iman dan taqwa (mabit) dengan peserta kelas atas yang berkumpul di sekolah untuk mengikuti serangkaian acara yang telah direncanakan oleh bapak dan ibu guru. Diawali dengan pembukaan dan penyampaian tata tertib dan susunan acara, para siswa kelas 4, 5 dan 6 memperhatikan dengan seksama arahan dari bapak dan ibu guru. Selanjutnya semua siswa melaksanakan sholat maghrib berjamaah, membaca dzikir maktsurat dan murojaah beberapa surat dari juz 30. Setelah itu melaksanakan sholat isya bersama lalu menyimak motivasi yang di sampaikan oleh ust. Sholihin Abu Izzudin.From Zero to Hero itulah tema mabit SD Juara Yogyakarta malam ini, 19 September 2017. Bermula dari nol, dari tidak mengerti sesuatu kelak mereka akan mampu menjadi pahlawan pemimpin ummat Islam baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Meskipun mata sudah mulai mengantuk namun seluruh peserta tetap bersemangat mengikuti. Ditambah gaya khas Ustadz Sholihin membakar dan menghidupkan suasana pada malam itu. Seluruh siswa yang hadir termotivasi untuk memiliki mimpi yang tinggi dan berusaha meraihnya dengan konsep DUIT (Doa-Usaha-Ikhtiar-dan Tawakkal). Dengan demikian bukan tidak mungkin semua asa mereka akan terwujud sehingga terlahir manusia yang bermanfaat dambaan ummat. Acara berakhir pukul 21.30 dan selanjutnya beristirahat untuk persiapan sholat tahajut dan longmarch esok hari.

Pengajian Orang Tua Siswa SD Juara

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Anak sebagai amanah dari Allah swt yang harus dididik dan dijaga agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negaranya maka perlu kiranya ada upaya kerja sama baik dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebagai wujud tanggung jawab tersebut, SD Juara pada 19 September 2017 mengundang para orangtua wali kelas 4, 5 dan 6 untuk berdiskusi dan belajar bersama dengan menghadirkan Ust. Sholihin Abu Izzuddin, motivator sekaligus penulis produktiv salah satunya buku yang berjudul Zero to Hero. Tak kurang dari 90 % orangtua yang hadir sangat antusias menyimak materi dan bertanya terkait banyak hal. Tak sedikit pula yang menitikkan air mata karena tersentuh dengan pesan-pesan yang disampaikan Ust. Sholihin Abu Izuddin. Acara berlangsung dimulai dengan sholat maghrib berjamaah sampai bada isya pukul 20.15.

Kunjungan Siswa Kelas 1 dan 5 SD Juara Yogyakarta ke Dinas Pertanian Kota Yogyakarta

Jumat, 08 September 2017

Yogyakarta, 8 september 2017 siswa kelas 1 dan 5 SD Juara Yogyakarta mengunjungi pameran di dinas pertanian dan pangan yogya. Kunjungan ini dalam rangka hari pangan dunia serta bertujuan untuk mengenalkan aneka tanaman dan pangan lokal serta pengolahannya. Dengan kunjungan ke beberapa stand siswa dapat mengetahui benih padi, bibit padi yang dipolibag dan aneka jenis beras, uwi, jagung, ketela dan lainnya serta macam olahanya dari tepung hingga makanan ringan. Tanaman sayur serta aneka buah. Anak-anak pun membawa bibit sawi di polibag kecil. Kunjungan Dilanjutkan dengan duduk di depan panggung utama untuk melihat demo olahan wedang uwuh. Hingga ada 9macam inovasi wedang uwuh. Beberapa bisa menjawab dan mendapatkan doorprize. Anak-anak juga menjawab kuis tentang pangan dan pertanian di pohon kuis dan mendapatkan macam-macam hadiah.

Fitrah Based Formal Education di kelas dua

Kamis, 07 September 2017

Kamis, 7 September 2017 menjadi ajang sharing buat walimurid kelas 2. Pasalnya ada bahasan menarik tentang pendidikan masa depan, Fitrah based Formal Education. Sebuah konsep yang mengajak para guru dan orangtua untuk menempatkan sekolah sebagai tempat yang kondusif untuk menumbuhkan fitrah anak anak agar secara bertahap mereka tumbuh menjadi insan yang selaras dengan tujuan penciptaannya. Diskusi hangat ada di forum tersebut. Apa sebenarnya tugas utama di kelas bawah sebagai pendidikan dasar yang akan menjadi bekal untuk tahapan pendidikan berikutnya. Tak lain dan tak bukan, adalah menumbuhkan fitrah iman. Yakni, menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya serta bangga beragama Islam. Selain itu Pendidikan Dasar juga mengemban amanah untuk menumbuhkan fitrah belajar dan fitrah seksualitas. Dan upaya untuk menumbuhkan fitrah tersebut pasti melibatkan peran orangtua. Apa saja peran sederhana yang harus dilakoni para orangtua? Sebagian peran tersebut dimanifestasikan dalam bentuk syiar yang juga menjadi agenda penting dalam forum parrenting tersebut, baik syiar untuk anak, ayah maupun ibu. Semoga dengan komunikasi yang dekat seperti ini akan lebih mudah menyelaraskan pola pendidikan antara di rumah dan sekolah.

SEMARAK KEGIATAN BELAJAR DI LUAR KELAS SD JUARA YOGYA

Yogyakarta, 7 September 2017 Diseluruh sekolah di Kota Yogyakarta mengadakan pembelajaranpenuh kegembiraan secara serentak di(luar)kelas. Program ini digagas oleh Kerlip ( Keluarga Peduli Pendidikan ) . Begitu juga dengan SD Juara Yogyakarta hari ini yang juga ikut serta melaksanakan program tersebut. Dimulai jam 07:00 Seluruh siswa berkumpul di halaman sekolah kemudiandilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya , Hari Merdeka dan Tanah Airku dilanjutkan Simulasi Tanggap Bencana dan menyanyikan Lagu “ Klo Ada Gempa”. Setelah selesai Simulasi Tanggap Bencana, Siswa diajak untuk antri Cuci Tangan di air mengalir sebelum makan bersama makanan tradisional yang sudah dibawa dari rumah. Siswa belajar berbagi makanan kepada sesama teman dan mengenal berbagai macam makanan tradisional yang jarang mereka makan. Hal ini sekaligus memberikan edukasi kepada siswa bahwa makanan yang enak bukan hanya makanan siap saji tapi makanan yang diolah secara tradisional juga jauh lebih enak. Selesai makan bersama Siswa kemudian melanjutkan tamanisasi dilingkungan sekitar sekolah untuk menjaga kebersihan dan menyiram tanaman.

SISWA KELAS 3 SD JUARA ANTUSIAS BELAJAR TENTANG HEWAN

Rabu, 06 September 2017

Yogyakarta, 6 September 2017 Belajar Asyik dan Menyenangkan tidak melulu harus di Sekolah dan didalam Kelas. Hari ini Rabu, 6 September 2017 Siswa Kelas 3 SD Juara Yogyakarta mengadakan Kunjungan Belajar ke Kebun Binatang Gembiraloka. Sebanyak 25 siswa dan 2 guru pendamping ikut dalam kunjungan tersebut. Kunjungan Belajar ini bertujuan agar siswa mengetahui tentang nama , makanan, habitat dan cara berkembang biak hewan yang terdiri dari Ovipar, Vivipar dan Ovovivipar. Setiap Siswa diberikan lembar tugas untuk meneliti, bertanya dan mencatat tentang hewan yang ditemui di Kebun Binatang. Siswa tampak Antusias dan serius berjalan dari kandang satu ke kandang yang lain kemudian aktif bertanya dan mengerjakan lembar tugas yang telah diberikan. ” Mi, aku tadi belajar banyak hewan di gembiraloka...ngasih makan juga...jadi tahu cara berkembang biak hewan...asyiik dan menyenangkan pokoknya” Ujar Siswa Muhammad Nasiruddin kepada ibunya seusai kunjungan di Gembiraloka. “Alhamdulillah anak-anak sangat antusias diajak terjun langsung belajar tentang berbagai macam hewan disini...” Tutur Pak Briliannaka Rawshan Fikri wali kelas 3.

Berlatih Berbagi dengan Berqurban

Selasa, 05 September 2017

YOGYA, 4 September 2017 Dalam rangka memperingati Hari Raya Idhul Adha 1438 H SD juara Yogyakarta menyelenggarakan berbagai acara baik untuk siswa dan juga orang tua siswa. Tema Qurban kali ini adalah “BERLATIH BERBAGI DENGAN BERQURBAN” Acara Parenting yang biasa rutin digelar setiap bulan kali ini diisi dengan Sosialisasi Rumah Zakat oleh Branch Manager Rumah Zakat Cabang Yogyakarta Ibu Warnitis dan Pengajian Hikmah Qurban oleh Ustadz. H. Ahmad Mustafid, M.Hum. Alhamdulillah Orang Tua khusyu mendengarkan himah qurban dari pembicara. Sementara itu untuk Siswa kelas 1 -3 diadakan acara menggambar dan mewarnai dengan tema qurban sedangkan kelas 4-6 membuat kreasi kain flanel dengan tema yang sama. Siswa tampak tekun dan asyik mengerjakan berbagai kreasi kain flanel. Untuk Idhul Adha 1438 H tahun ini Alhamdulillah ada 3 shohibul Quran yang menunaikan Qurban di SD Juara dan hasil infak siswa yang telah terkumpul dibelikan satu ekor kambing yang kemudian disembelih dan dibagikan berupa daging mentah untuk masyarakat yang tidak mampun di sekitar SD Juara. Semoga dengan berbagi kepada masyarakat yang tidak mampu akan tumbuh jiwa sosial, semangat berbagi dan berqurban didalam diri siswa.

Makananku Sehat,Pencernaanku Juga Sehat

Selasa, 29 Agustus 2017

Yogya, Selasa 29 Agustus 2017 Seluruh siswa kelas lima SD Juara Yogyakarta praktik langsung memasak makanan sehat dengan harga yang bersahabat. Karena menyantap makanan yang sehat dan toyib tidaklah harus indentik dengan makanan yang mahal, dan memasak bahan makanan agar terasa lezat tidaklah perlu dengan menambahkan bumbu-bumbu yang mengandung MSG (monosodium Glutamat). Tanpa MSG insyaallah makanan akan tetap terasa enak dan sehat. Kegiatan memasak ini berlangsung di halamaan sekolah SD Jura Yogyakarta, dan merupakan bagian dari pembelajaran siswa tentang “makananku sehat, pencernaanku juga sehat”. Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, kemudian masing-masing kelompok diberi tugas memasak sayur sop, menggoreng tempe garit dan membuat sambal tomat. Proses memasaknya pun cukup sederhana, pertama-tama semua sayur di cuci, kemudian dipotong-potong, dan terakhir dimasak. Setelah proses memasak selesai, siswa diminta untuk kembali kekelasnya dan menikmati masakan masing-masing kelompok, sambil memperaktikkan cara makan sesuai dengan adab makan. “Alhamdulillah, seluruh siswa kelas lima sangat antusias mengikuti pembelajaran ini” kata bu khotim sebagai wali kelas lima. Selain untuk melatih kerjasama siswa, keterampilan memasak ini juga dapat menjadi sarana untuk melatih kemadirian siswa, kesabaran siswa serta mengajak siswa untuk berbagi dengan teman-temannya.

Kid's Atlhetics Kelas Lima

Yogya, 29 Agustus 2017 Penjasorkes merupakan salah satu pembelajaran siswa yang tidak hanya untuk melatih kebugaran saja namun juga sebagai sarana untuk mengenalkan siswa berbagai cabang olahraga. Penjasorkes kali ini dilaksanakan di halaman parkir sd juara yogyakarta yaitu siswa mengenal cabang olahraga Kids Atlhetics. Kids Atlhetics merupakan salah satu cabang olahraga yang khusus diperuntukkan siswa sekolah dasar. Cara bermainnya pun cukup mudah siswa diminta berbaris terlebih dahulu,kemudian berlari sambil melompati penghalang, dan berlari zigzag untuk sampai ke finish. Melalui pembelajaran ini diharapkan siswa kelas lima memiliki banyak pengalaman variasi gerakan,serta untuk melatih koordinasi, kecepatan,kelincahan dan daya tahan otot kaki.

Siswa Kelas Satu Belajar Kebersihan Gigi

Kamis, 24 Agustus 2017

Yogya, siswa kelas satu sd juara yogyakarta belajar tentang kesehatan mulut dan gigi. Kesehatan mulut dan gig ini sangat penting untuk dijaga oleh siapaun baik itu anak-anak maupun orang dewasa yiatu dengan menggosok gigi. Karena begitu pentingnya untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi, mka bu ery wali kelas satu hari ini menjelaskan serta memberikan simulasi bagaiman cara megosok gigi yang benar, sehingga dapat merawat, menjaga kekuatan gigi serta mencegah bau mulut yang disebabkan oleh bakteri bakteri. Bu ery menerangkan bahwa Cara merawat kesehatan gigi yang paling sederhana adalah menyikat gigi secara rutin dan teratur minimal 2 kali sehari setiap pagi dn malam hari sebelum tidur. Setelah memeberika simulasi bu ery meminta satu per satu ssiwa untuk maju kedepan kelas untuk mencobamenyikat gigi. Alhamdulillah Siswa sangat senng mengikuti kegiatan pemebalajran ini.

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga