Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

[Video] Kisah Inspiratif : Keajaiban Sedekah

Senin, 27 Januari 2014



SD Juara-Jogja: Kita awali dengan sebuah kisah keajaiban sedekah. Kisah yang menunjukkan bagaimana Allah sangat menghargai amal hamba. Tuhan Yang Maha Mendengar tidak akan menyia-nyiakan kebaikan makhluk yang Dia ciptakan.

Sebuah kisah Inspiratif KEAJAIBAN SEDEKAH Seseorang anak ketahuan mencuri obat, ia dimarahi dan dimaki, akhirnya penjual mie menolongnya membayarkan harga obat dan makanan, karena ia memberi tahu semua yang ia lakukan hanya untuk Ibunya yang sakit..cerita pun berlanjut 30 tahun kemudian...Orang tua yang suka bersedekah itu jatuh sakit hingga semua harta terjual untuk biaya pengobatan ayah sang anak gadis yang suka bersedekah itu,Tanpa diduga sang anak yang ditolongnya 30 tahun yang lalu telah menjadi Dokter,Sang Dokterlah yang melunasi biaya pengobatan di Rumah Sakit

''Sedekah merupakan jawaban semua permasalahan,tak ada persoalan apa pun yang tidak selesai, selama kita melibatkan Allah swt. dengan cara, antara lain melalui sedekah dan ikhlas memberi."

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bermanfaat bagi sesama.

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).




Ciri Sekolah Unggul

Senin, 20 Januari 2014


Prof. Arief Rachman


SD Juara-jogja: Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, Prof Arief Rachman, menyatakan, ada 10 ciri sekolah yang disebut unggulan. Menurutnya, jika suatu sekolah memiliki 10 ciri tersebut, maka, ia sudah layak dianggap sebagai sekolah yang unggul.

Pertama, kepemimpinan sekolah profesional. Pemimpin profesional, kata Arief, adalah pemimpin yang partisipatif, tegas, dan bertujuan, serta memiliki keterampilan, kemampuan, dan kemauan untuk memajukan sekolah.

Kedua, semua warga sekolah memahami dan melaksanakan visi dan misi sekolah.

''Itu ditandai dengan adanya kesatuan pandangan dan arah mengenai visi, adanya konsistensi dan kebersamaan,'' .

Ketiga, suasana pembelajaran yang menyenangkan. Hal itu ditandai dengan asmosfer suasana kelas yang mendukung serta lingkungan kerja yang menyenangkan.

Keempat, kegiatan pembelajaran di sekolah sangat beragam, seperti intra, co, dan ekstra kurikuler berjalan seimbang dan saling mendukung. ''Tanda-tandanya, adanya optimalisasi waktu pembelajaran, penekanan pada kemampuan akademik, dan fokus pada pencapaian prestasi,''

Kelima, guru memiliki perencanaan pembelajaran, yang ditunjukkan dengan adanya target yang jelas, terorganisir, dikomunikasikan pada siswa, dan adanya fleksibilitas sesuai dengan kondisi siswa.

Keenam, semua program yang positif mendapat penguatan dari sekolah, orang tua, dan siswa,

Ketujuh, sekolah melakukan monitoring dan evaluasi secara terprogram dan berdampak terhadap perbaikan sekolah. Misalnya, dengan monitoring kemajuan siswa yang dilakukan setiap saat, serta evaluasi kemajuan sekolah.

Kedelapan, hak dan kewajiban siswa dipahami dan dilaksanakan dengan baik di sekolah,

Kesembilan adalah kemitraan antara sekolah dengan rumah tangga atau orang tua.
Kesepuluh, munculnya kretativitas dalam organisasi sekolah untuk pengembangan pendidikan.


By. Prof.  Arief Rachman [Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco]

Aku Malu Kalau Temenku Tau

Kamis, 16 Januari 2014




Teet . . . teet . . . teet , bel masuk kelas  berbunyi tepat jam tujuh pagi.Seperti biasa anak –anak segera berlari ke kelas masing-masing untuk acara wali kelas show .  Ingin tahu makanan apa  itu ya? Wali kelas show adalah sarapannya anak SD Juara Jogja sebelum pelajaran dimulai. Penasaran apa menunya? Yang pasti lezat dan mengasyikkan. “ Yuk ikuti cerita bu guru selanjutnya ya   biar tidak penasaran.

        “Assalamu”alaikum warahmatullahi wabarakatuh! ,”Ucap bu Siti dengan keras.“ Wa”alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab para siswa sama keras dan kompak lagi.” Semangat pagi!” teriak bu Siti sambil mengepalkan tanganya ke udara.  “ “ Pagi!” sambut para siswa sambil berdiri dan mengepalkan tanganya ke udara.” Anak- anakku  tersayang kita mulai pagi ini dengan berdoa semoga Allah memberikan kemudahan kita semua dalam belajar. Sikap berdoa mulai! “. Bibir – bibir mungil itu mulai melantunkan doa dengan khusuk meski masih ada satu dua yang belum betul sikapnya karena ini adalah juga proses pembelajaran .

         Selesai berdoa bu Siti segera mengabsen siapa saja hari ini yang tidak hadir.         “ Bu cerita lagi dong?” rajuk Hanes sambil menampakkan lesung pipinya yang manis.    “ Nggak usah bu, permainan saja!” tukas Hani sang juara kinestetis. “ Dah..  nggak usah ribut  terserah bu Siti saja ,” ujar Juelita menengahi.

“ Ok , hari ini bu guru akan memceritakan kepada kalian tentang seorang  tokoh nasionl kita. Siapa yang bisa menebak tokoh tersebut akan mendapatkan hadiah istimewa.”
“ Beliau adalah salah satu pemimpin bangsa Indonesia.”
“ Beliau sering pergi ke luar negeri untuk perjalanan dinas  dan kepentingan bangsa.”
“ Susilo Bambang, Bu! Jawab Sapurta mantap.
“  Benar tapi bukan itu yang ibu maksud”. Kata bu siti sambil tersenyum.

“ Ok, saya lanjutkan ya. Beliau pernah menginginkan sebuah sepatu Dolly sampai- sampai gambar sepatu  di majalah di gunting dan di simpan pada buku harianya. Sayangnya sanpai akhir hayatnya sepatu itu tidak terbeli.Siapa yang tahu nama tokoh kita kali ini?”

      Anak- anak masih diam seribu bahasa terpesona oleh alur cerita kisah pahlawan ini.
“ Bu guru tambah ya ceritanya biar tertebak siapa tokoh kita hari ini. Beliau salah satu pejuang yang ikut memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia.”
“ Sukarno Bu!”  Jawab Firman yakin.
“ Yap , Betul Tapi kurang sedikit lagi. Beliau juga  mendapat gelar bapak Koperasi Indonesia .”
“ Aku tahu bu! Muhammat Hatta ! “ jawab Putra sambil mengacungkan jarinya.
“ Ya..! betul sekali .Pejuang kita kali ini adalah Muhhamat Hatta!. Selamat mas Putra nanti istirahat pertama silakan mengambil hadiah di tempat bu guru.

         Bu guru kemudian mengarisbawahi hikmah apa yang dapat diambil dari kisah  Muhhamat Hatta. Agenda selanjutnya setelah bercerita bu guru mengadakan cel list ke siswa siapa saja yang yang tidak sarapan,sholat lima waktu, kelengkapan alat sekolah dan kebersihan diri.

“ Hari kemarin ada satu anak yang tidak masuk tanpa keterangan.
“ Alip kenapa kamu tidak masuk kemarin? tanya bu guru.
“ Kemarin aku  main bola sampai sore ,terus kecapekan bu .” jelas Alip dengan agak cadel.”Ok, lain kali mainya sebentar saja ya biar tidak capek”, nasehat bu guru.

           Tiga hari kemudian ketika pada acara cek list bu guru menanyakan kembali hal yang sama pada Alip karena  Selasa kemarin Alip tidak masuk lagi. Sudah dua minggu ini bu guru memperhatikan  Alip kadang tidak masuk sekolah tanpa keterangan.

“ Mas Alip kenapa Selasa kemarin tidak masuk lagi? Kecapekan lagi habis bermain lama? Tanya bu guru

“ Eee…, tidak bu aku memperbaiki ban sepeda yang kempes,bolak-balik ke benngkel sampai tiga kali terus aku bantuin ibuku jualan juga jadi bangunya sudah kesiangan.”

“ Mas bantuin ibu apa?” Selidik bu guru.. ” Aku belian gula ,kadang juga belian es batu kalau esnya habis.” Jelas Alip sambil menundukan wajahnya.

         Ada sesuatu yang lain yang Bu guru rasakan terhadap Alip. Rasa itu akhirnya terjawab di pagi harinya ketika ibu Alip datang ke sekolah.

“Assalamu’alaiku, bagaimana kabarnya bu ? sapa bu guru sambil menyalaminya.
“Wa’alaikum salam bu, ini mau ngantar sarapan Alip. Bu saya boleh minta tolong ? kata ibunya Alip sembari matanya berkaca-kaca.

“ Oh,ya  mari kita ke dalam dulu “. Kata bu guru sambil merangkul bahu sang ibu.
“ Silahkan duduk bu? Apa yanb bisa saya bantu?” kataku pelan.

“ Anu bu, saya mau pinjam uang tabunganya Alip limapuluh ribu untuk makan minggu ini. Allah baru memberi kita cobaan anak- anak pada sakit dan saya tidak jualan sehingga kita tidak punya uang sama sekali. Mau pinjam tetangga juga tidak punya. Sebenarnya saya malu mau kensini tapi mau bagaimana lagi? Kata ibunya Alip sungguh – sungguh.

“ Saya ikut prihatin ya bu? Tapi bagaimana ya uang mas Alip sudah saya setorkan ke bank.Coba saya lihat dompet saya dulu kalu ada nanti saya pinjami uang saya dulu”kataku sambil mengambil tas dan melihat isi dompet.

‘’Oh,iya bu saya mau menanyakan mas Alip dua minggu terakhir ini kok sering tidak masuk kenapa ya?” kataku untuk mentabayun keteranga dari Alip sendiri.

“ Iya,bu dua minggu ini Alip kadang tidak masuk karena tidak ada sarapan dan tidak punya uang saku, kalau saya suruh masuk tidak mau malu katanya.” Jelas ibunya Alip.

        Masya Allah hatiku menangis mengetahui siswaku dalam dua minggu ini kesulitan untuk makan, Terbayang wajah Alip yang ditanya kenapa tidak masuk sekolah dengan segudang alasan yang ia buat sendiri untuk menutupi rasa malunya kepada teman-temanya kalau ia sedang kekurangan.” Ya Allah maafkan diriku karena kekerangpekaanku terhadap anak didiku.” Doaku dalam hati.

“ Ya sudah bu,kalau begitu, bilang sama mas Alip kalau uang saku dan sarapanya sudah dititipkan ke bu guru jika memang ibu sedang tidak ada uang. Ini uang yang lima puluh ribu yang saya pinjamkan silahkan di gunakan semoga bermanfaat”kataku.

        Aku sengaja tidak memberikan uang lima puluh ribu itu secara percuma karena aku ingin meliah mentalitas dari ibunya Alip terhadap tanggung jawab terhadap keuangan. Untuk mas Alip Bu guru menasehati supaya kalau ada apa-apa terus terang dan tidak perlu malu supaya bu guru dapat membantu. Masukan untuk para guru kita perlu mengasah kepekaan diri terhadap anak didik kita sehingga hal seperti ini tidak perlu terjadi lagi.

By. Siti Khotimatul M., S.Si

Sudah terujikah Iman Kita

Kamis, 09 Januari 2014



Ujian dan Cobaan sepertinya tidak bisa lepas dari fitrah manusia, karena dengan ujian itulah hidup kita selaku hambaNYA akan semakin berkualitas dan juga akan bertambah baik. Dan sebaliknya, jika hidup ini selalu dalam keadaan baik terus, tanpa ada satu halangan dan rintangan, tentu manusia tidak mengetahui tingkat kebaikan atau kualitas yang ada pada dirinya. 

Kita selaku orang yang beriman kepada Allah SWT, tentu sudah sangat lumrah jika kita mendapat ujian dan cobaan, sebab dengan adanya ujian tersebut, kadar keimanan seseorang akan terlihat, sejauh manakah kesabaran dan ketabahan kita, sekuat manakah keimanan dan keyakinan kita akan karunia dan pertolongan yang akan Allah berikan kepada kita disaat kita ditimpa ujian maupun cobaan.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam surat Al-Ankabut :10:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi 107).

Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.

... Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya... (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Bila kita memper-hatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada?

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda. Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:

Yang pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan

Ujian berupa perintah untuk dilaksanakan ini seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).

Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab, 59).

Namun kita lihat sekarang masih banyak wanita Muslimah di Indonesia khususnya tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:

“Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim, Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).

Contoh lain ujian berupa perintah untuk dilaksanakan adalah sebagaimana Allah SWT  telah memerintahkan kepada seorang mukmin untuk menunaikan ibadah puasa, sholat, zakat, dan masih banyak lagi perintah-perintah Allah SWT untuk kita laksanakan. Namun kalau kita lihat realitas sekarang banyak sekali kita temukan di tengah masyarakat kita yang tidak menjalankan ibadah puasa ramadhan ataupun sholat, dan terlebih perintah untuk berzakat yang ia harus rela mengeluarkan sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada orang yang berhak.
Bukankah hal demikian menunjukan bahwanya ujian berupa perintah Allah SWT yang harus dilaksakan menjadi sesuatu yang sangat berat untuk dilaksanakan oleh sebagian besar masyaralkat kita. Inilah pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian.

Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan

Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.

Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah ada yang kecanduan. Perzinahan sudah seakan menjadi barang biasa bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi. Di antara akibatnya setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja.

Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:

“Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).

Yang ketiga: Ujian yang berbentuk musibah

Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).

Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52). Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.

Yang keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam.

Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam  sebagaimana apa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah n di akhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182).

Juga apa yang dialami oleh para shahabat tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir z dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.

Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang akibat kedengkian orang-orang kafir, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah-daerah lain. Umat Islam di Indonesia khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Sungguh menyakitkan memang di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim terjadi pembantaian terhadap kaum Muslimin, sekian ribu nyawa telah melayang, bukan karena mereka memberontak pemerintah atau menyerang pemeluk agama lain, tapi hanya karena mereka mengatakan: ( Laa ilaaha illallaahu ), tidak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:

"Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.

Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah.
 “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7).

Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :

Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).

Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita.  Amin.

[Video] Sayyidina Umar Teladan Pemimpin Sejati

Rabu, 08 Januari 2014


Sayyidina Omar adalah sosok pemimpin yang berwibawa, tegas dan pemberani... Namun begitu lembut hatinya... hingga pada suat saat dirinya menangis melihat seorang ibu sedang menanak batu... hanya sekedar untuk menenangkan buah hatinya yang menangis kelaparan.... dan apa yang dilakukan omar... melihat itu semua...???



PEMBELAJARAN IPA SESEGAR EUSTACHIUS ( ES THE CIUS )

Minggu, 05 Januari 2014

Karya Siti Khotimatul Mahmudah,S.Si.

Pendidik di SD Juara Jogjakarta


Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru salah satunya adalah bagaimana ia memahami karakter dan keanekaragaman dari peserta didik. Sebuah tantangan yang luar biasa untuk bisa mengadakan pembelajaran yang kreatif dengan keberagaman tersebut. Keanekaragaman tersebut antara lain latar belakang keluarga, agama, pola asuh, bahasa ,lingkungan tempat tinggal dan lain sebagainya. Tetapi penulis tidak akan membahas semua itu .Penulis hanya mengambil salah satu keragaman yang dimiliki oleh peserta didik  yaitu adanya berbagai macam kecerdasan (Multiple Intelligence ).

 Dr. Howard Gadrner  mengungkapkan ada beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yaitu   :
1     .      Kecerdasan linguistik
2     .      Kecerdasan visual spasial
3     .      Kecerdasan natural
4     .      Kecerdasan  kinestetis
5     .      Kecerdasan logis matematis
6     .      Kecerdasan interpersonal
7     .      Kecerdasan intrapersonal
Setiap peserta didik pasti memiliki satu  jenis kecerdasan bahkan bisa lebih sehingga  dengan berbekal kecerdasan yang dimiliki tersebut guru bisa merancang pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu contoh pembelajaran yang penulis lakukan di SD Juara Jogjakarta adalah belajar Ilmu Pengetahuan Alam  tentang bagian telinga manusia dengan menggunakan  penggabuangan metode menggambar dan  bercerita dengan asoasiasi.  Asosisi ini dimaksudkan peserta didik mengupamakan bagian telinga dengan benda lain yang sudah dikenal dan lebih familier dalam kehidupan sehari – hari.
Belajar Ilmu Pengetahuan Alam biasanya  identik dengan materi yang susah karena harus menghafal kata - kata yang biasanya jarang didengar dan menggunakan bahasa ilmiah. Contoh : eustachius, bronkiolus, alveolus, sanggurdi , martil dan lain- lain.
            Materi pembelajaran kali ini adalah tentang bagian-bagian telinga . Guru menuliskan bagian - bagian telinga di papan tulis secara lengkap kemudian peserta didik secara berkelompok menggambarkan bagian tersebut sesuai dengan imajinasi mereka.  Pembagian kelompok dengan cara siswa secara acak mengambil kartu pengenal yang berbeda warna yang didalam kartu tersebut ada nama kelompoknya. Kelompok ini dibagi menjadi tiga sesuai dengan judul yaitu kelompok ES ,kelompok THE dan kelompok CIUS. Pembagian kelompok ini akan sangat menyenangkan untuk anak yang kinestetis karena ia bisa bergerak bebas dan mencari tempat yang ia sukai untuk mengerjakan tugasnya.Kerja kelompok ini akan semakin  menyenangkan  dan menumbuhkan semangat bersaing karena kelompok yang kompak dan bagus karyanya akan mendapatkan hadiah special dari guru .  Hadiah ini bisa diberikan ke semua kelompok dengan cara menentukan juara dengan kategori yang berbeda,misalnya juara kelompok paling kompak, juara hasil gambar yang paling bagus dan lain sebagainya. Imajinasi peserta didik ternyata luar biasa. Daun telinga mereka gambar dengan mengasoasiasikan  gambar daun dan telinga, lubang telinga di gambar lingkaran dan semut , rumah siput di gambar rumah yang berbentuk siput dan gendang telinga digambar gendang  dan telinga. Untuk detail contoh gambar bisa di lihat di foto.
Dari pengamatan penulis peserta didik yang mempunyai kecerdasan intra personal akan segera mengorganisir temannya yang lain untuk berbagi tugas. Ada yang tugasnya menggambar (visual spasial), ada yang tugasnya menulis, ada yang mewarnai bahkan ada yang khusus memilihkan warna untuk mewarnai gambar tersebut.  Peserta didik  logis matematis biasanya yang punya ide kretif apa yang sebaiknya digambar. Contohnya   apa yang dilakuakan peserta didik  yang bernama Eka Putri bagian telinga yang bernama sakulus dan utrikulus digambarkan dengan SAKU ( di dalamnya ada tanda + ) dan  seorang putri bermahkota dengan tanda   (+).
Setelah selesai menggambar setiap kelompok akan maju menunjukakan hasil karya dengan cara setiap peserta didik memegang satu gambar sambil meneriakkan nama bagian telinga yang ia pegang. Kemudian peserta didik yang lain menirukan nama bagian telinga yang diteriakakan tadi,sehingga dengan begitu secara tidak langsung siswa menghafalkan nama bagian – bagian  telinga. Cara ini sangat efektif untuk siswa yang metode belajarnya dengan cara auditory dan visual.
Untuk metode bercerita peserta didik yang bernama Raja  menceritakan bagian – bagian telinga dengan cara asosiasi .Contoh ceritanya sebagai berikut : “ ada daun berbentuk telinga  yang ber lubang  menuju saluaran  yang didalamnya ada tabuhan gendang  tersedia  eustachius ( dibaca Es The Chius) . Tulang pendengaran kita setajam martil ( palu) , sekuat landasan ( pesawat) dan selembut sampur (sangkurdi). Telinga dalam ada bangunan bertingkap (tingkat) berbentuk jorong dan bundar yang didalamnya ada 3 saluran setengah lingkaran  berisi rumah siput.
Bagian – bagian telinga yang diceritakan dengan diasosiasikan benda yang sering di lihat peserta didik akan lebih mudah diingat  dari pada hanya menghafal katanya saja tanpa ada variasi metode. Urutan bagian telinga yang benar adalah sebagai berikut: daun telinga, lubang telinga,saluran telinga, gendang telinga,eustachius,tulang pendengaran yang terdiri dari (martil,landasan,sangkurdi), telinga dalam yang terdiri dari ( tingkap jorong, tingkap bundar atau sakulus dan utrikulus dan rumah siput).
Beberapa peserta didik mengaku lebih mudah menghafal. Raka berkata,” melihat gambarnya saja aku langsung ingat nama bagian telinganya. Peserta didik yang bernama Raja yang suka sekali bercerita mengatakan untuk mengingat bagian telinga ia akan mengingat apa yang telah ia ceritakan sehingga ia berhasil menyebutkan bagian telinga dengan lengkap dan benar. Metode bercerita akan lebih efektif lagi dengan cara kita mengemas cerita itu dengan kata yang dilebih –  lebihkan dan disertai dengan gerakan tangan atau bahasa tubuh. Misalnya kata untuk mengingat kata tomat dan gorilla dibuat kata yang dilebih –lebihkan dengan kata tomat sebesar gorilla atau tomat makan gorilla.  Nama organ tiga saluran setengah lingkaran bisa dengan menggerakkan jari sejumlah tiga dan meliukkan tangan kemudian tangan membentuk setengah lingkaran.
Contoh bercerita ini pernah dilakukan juga oleh kelas lima yang menghafalkan organ pernafasan pada manusia. Cerita bermula dari hidung berambut gondrong  kemudian di tekak ( tangan memperagakan seperti orang di tekak), ada tenggo memakai rok an  sehingga  bercabanglah tengorokan,yang berwarna brown bertebaran kiolus (pilus) dan berakhir di pentas Alve yang penuh fulus. Bagian organ pernafasan yang sebenrnya adalah hidung, rambut, tekak, tenggorokan, cabang tenggorokan, bronkiolus dan alveolus.
Demikian proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang penulis lakukan di SD Juara Jogjakarta. Masih banyak kekurangan tetapi semoga ini menambah inspirasi kita semua untuk selalu melakukan pembaharuan dan kreasi dalam proses pembelajaran  sehingga peserta didik akan semakin termotivasi untuk belajar. Sangat penulis sayangkan jika sebagai seorang pendidik belum mau mencoba berbagai terobosan baru atau metode yang dianggap paling tepat untuk mengakomodir keberagaman peserta didik. Berani mencoba dan terus mencoba adalah salah satu cara yang tepat  untuk kita bisa menemukan metode yang efektif dalam proses pembelajaran karena setiap sekolah peserta didiknya mempunyai karakteristik dan  jenis keberagaman yang berbeda.  Untuk siswa yang memiliki kecerdasan musikal belum terakomodir dalam pembelajaran ini karena peserta didik yang biasanya suka menyanyi sedang sakit  dan penulispun belum menemuka metode yang sesuai . Sebagai kata penutup perkenankan penulis cuplikan beberapa pantun karya Naya ( peserta didik kelas 4 yang paling jago membuat pantun) tentang bagian – bagian telinga. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.

Pantun Bagian Telinga
Karya Henestatri Wiritanaya
Mau naik ke lantai dua
Haruslah naik tangga
Telinga punya bagian ke dua
Namanya lubang telinga
Mampir ke warung makan sop iga
Walaupu enak tapi mahal harga
Telinga pastilah punya bagian ke tiga
Namanya saluran telinga
Pergi berlayar ke tengah laut
Tidak lupa bawa es the dan jus
Ada bagian yang menghubungkan telinga dengan mulut
Itulah  saluran eustachius
Ibu memasak di atas papan
Sedang memasak telur dadar
Bagian telinga yang ke delapan
Namanya adalah tingkap bundar
Ada anak melihat burung pelikan
Burungnya lagi makan ikan
Ada bagian telinga yang ke sembilan

Yaitu tiga saluran setengah lingkaran

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga