Blogger Widgets
News Update :

`

`

Aku Malu Kalau Temenku Tau

Kamis, 16 Januari 2014




Teet . . . teet . . . teet , bel masuk kelas  berbunyi tepat jam tujuh pagi.Seperti biasa anak –anak segera berlari ke kelas masing-masing untuk acara wali kelas show .  Ingin tahu makanan apa  itu ya? Wali kelas show adalah sarapannya anak SD Juara Jogja sebelum pelajaran dimulai. Penasaran apa menunya? Yang pasti lezat dan mengasyikkan. “ Yuk ikuti cerita bu guru selanjutnya ya   biar tidak penasaran.

        “Assalamu”alaikum warahmatullahi wabarakatuh! ,”Ucap bu Siti dengan keras.“ Wa”alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab para siswa sama keras dan kompak lagi.” Semangat pagi!” teriak bu Siti sambil mengepalkan tanganya ke udara.  “ “ Pagi!” sambut para siswa sambil berdiri dan mengepalkan tanganya ke udara.” Anak- anakku  tersayang kita mulai pagi ini dengan berdoa semoga Allah memberikan kemudahan kita semua dalam belajar. Sikap berdoa mulai! “. Bibir – bibir mungil itu mulai melantunkan doa dengan khusuk meski masih ada satu dua yang belum betul sikapnya karena ini adalah juga proses pembelajaran .

         Selesai berdoa bu Siti segera mengabsen siapa saja hari ini yang tidak hadir.         “ Bu cerita lagi dong?” rajuk Hanes sambil menampakkan lesung pipinya yang manis.    “ Nggak usah bu, permainan saja!” tukas Hani sang juara kinestetis. “ Dah..  nggak usah ribut  terserah bu Siti saja ,” ujar Juelita menengahi.

“ Ok , hari ini bu guru akan memceritakan kepada kalian tentang seorang  tokoh nasionl kita. Siapa yang bisa menebak tokoh tersebut akan mendapatkan hadiah istimewa.”
“ Beliau adalah salah satu pemimpin bangsa Indonesia.”
“ Beliau sering pergi ke luar negeri untuk perjalanan dinas  dan kepentingan bangsa.”
“ Susilo Bambang, Bu! Jawab Sapurta mantap.
“  Benar tapi bukan itu yang ibu maksud”. Kata bu siti sambil tersenyum.

“ Ok, saya lanjutkan ya. Beliau pernah menginginkan sebuah sepatu Dolly sampai- sampai gambar sepatu  di majalah di gunting dan di simpan pada buku harianya. Sayangnya sanpai akhir hayatnya sepatu itu tidak terbeli.Siapa yang tahu nama tokoh kita kali ini?”

      Anak- anak masih diam seribu bahasa terpesona oleh alur cerita kisah pahlawan ini.
“ Bu guru tambah ya ceritanya biar tertebak siapa tokoh kita hari ini. Beliau salah satu pejuang yang ikut memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia.”
“ Sukarno Bu!”  Jawab Firman yakin.
“ Yap , Betul Tapi kurang sedikit lagi. Beliau juga  mendapat gelar bapak Koperasi Indonesia .”
“ Aku tahu bu! Muhammat Hatta ! “ jawab Putra sambil mengacungkan jarinya.
“ Ya..! betul sekali .Pejuang kita kali ini adalah Muhhamat Hatta!. Selamat mas Putra nanti istirahat pertama silakan mengambil hadiah di tempat bu guru.

         Bu guru kemudian mengarisbawahi hikmah apa yang dapat diambil dari kisah  Muhhamat Hatta. Agenda selanjutnya setelah bercerita bu guru mengadakan cel list ke siswa siapa saja yang yang tidak sarapan,sholat lima waktu, kelengkapan alat sekolah dan kebersihan diri.

“ Hari kemarin ada satu anak yang tidak masuk tanpa keterangan.
“ Alip kenapa kamu tidak masuk kemarin? tanya bu guru.
“ Kemarin aku  main bola sampai sore ,terus kecapekan bu .” jelas Alip dengan agak cadel.”Ok, lain kali mainya sebentar saja ya biar tidak capek”, nasehat bu guru.

           Tiga hari kemudian ketika pada acara cek list bu guru menanyakan kembali hal yang sama pada Alip karena  Selasa kemarin Alip tidak masuk lagi. Sudah dua minggu ini bu guru memperhatikan  Alip kadang tidak masuk sekolah tanpa keterangan.

“ Mas Alip kenapa Selasa kemarin tidak masuk lagi? Kecapekan lagi habis bermain lama? Tanya bu guru

“ Eee…, tidak bu aku memperbaiki ban sepeda yang kempes,bolak-balik ke benngkel sampai tiga kali terus aku bantuin ibuku jualan juga jadi bangunya sudah kesiangan.”

“ Mas bantuin ibu apa?” Selidik bu guru.. ” Aku belian gula ,kadang juga belian es batu kalau esnya habis.” Jelas Alip sambil menundukan wajahnya.

         Ada sesuatu yang lain yang Bu guru rasakan terhadap Alip. Rasa itu akhirnya terjawab di pagi harinya ketika ibu Alip datang ke sekolah.

“Assalamu’alaiku, bagaimana kabarnya bu ? sapa bu guru sambil menyalaminya.
“Wa’alaikum salam bu, ini mau ngantar sarapan Alip. Bu saya boleh minta tolong ? kata ibunya Alip sembari matanya berkaca-kaca.

“ Oh,ya  mari kita ke dalam dulu “. Kata bu guru sambil merangkul bahu sang ibu.
“ Silahkan duduk bu? Apa yanb bisa saya bantu?” kataku pelan.

“ Anu bu, saya mau pinjam uang tabunganya Alip limapuluh ribu untuk makan minggu ini. Allah baru memberi kita cobaan anak- anak pada sakit dan saya tidak jualan sehingga kita tidak punya uang sama sekali. Mau pinjam tetangga juga tidak punya. Sebenarnya saya malu mau kensini tapi mau bagaimana lagi? Kata ibunya Alip sungguh – sungguh.

“ Saya ikut prihatin ya bu? Tapi bagaimana ya uang mas Alip sudah saya setorkan ke bank.Coba saya lihat dompet saya dulu kalu ada nanti saya pinjami uang saya dulu”kataku sambil mengambil tas dan melihat isi dompet.

‘’Oh,iya bu saya mau menanyakan mas Alip dua minggu terakhir ini kok sering tidak masuk kenapa ya?” kataku untuk mentabayun keteranga dari Alip sendiri.

“ Iya,bu dua minggu ini Alip kadang tidak masuk karena tidak ada sarapan dan tidak punya uang saku, kalau saya suruh masuk tidak mau malu katanya.” Jelas ibunya Alip.

        Masya Allah hatiku menangis mengetahui siswaku dalam dua minggu ini kesulitan untuk makan, Terbayang wajah Alip yang ditanya kenapa tidak masuk sekolah dengan segudang alasan yang ia buat sendiri untuk menutupi rasa malunya kepada teman-temanya kalau ia sedang kekurangan.” Ya Allah maafkan diriku karena kekerangpekaanku terhadap anak didiku.” Doaku dalam hati.

“ Ya sudah bu,kalau begitu, bilang sama mas Alip kalau uang saku dan sarapanya sudah dititipkan ke bu guru jika memang ibu sedang tidak ada uang. Ini uang yang lima puluh ribu yang saya pinjamkan silahkan di gunakan semoga bermanfaat”kataku.

        Aku sengaja tidak memberikan uang lima puluh ribu itu secara percuma karena aku ingin meliah mentalitas dari ibunya Alip terhadap tanggung jawab terhadap keuangan. Untuk mas Alip Bu guru menasehati supaya kalau ada apa-apa terus terang dan tidak perlu malu supaya bu guru dapat membantu. Masukan untuk para guru kita perlu mengasah kepekaan diri terhadap anak didik kita sehingga hal seperti ini tidak perlu terjadi lagi.

By. Siti Khotimatul M., S.Si
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga