Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Belajar Mendidik Anak dari Nabi Ibrahim As.

Jumat, 18 Oktober 2013

Belajar Mendidik Anak dari Nabi Ibrahim

Ditengah maraknya metode pendidikan anak yang ditawarkan,  hadir spiritual parenting berazaskan pada metode yang di ajarkan Allah dalam Al Qur’an dan contoh dari Rasulullah. Dalam Islam peran ayah dalam mendidik anaknya ternyata sangat dominan sebagaimana di kisahkan    dalam Al Quran. Di antaranta kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan Ismail anaknya, Kisah Lukman yang memberikan pelajaran dengan cara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang pada anaknya dapat di temui dalam Al Quran .

Talkshow “Spiritual Parenting” yang di selenggarakan oleh PP Salimah, Ibu Nurul Hidayati , ketua Umum PP salimah  mengingatkan kita untuk belajar dari Nabi Ibrahim yang mengajak berdialog anaknya Ismail,   untuk membuat keputusan sendiri dalam hidupnya.

Sebagai mana ayat firman Allah : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. 37:102

Dalam ayat ini terjadi  dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail tentang perintah penyembelihan Ismail, dan beliau berdua berhasil melalui ujian yang nyata tersebut dengan amat sabar, dan Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar .

Bagaimana kah cara nya Nabi Ibrahim mendidik anak-anak nya hingga memiliki kesabaran dan ketaat yang sempurna pada Tuhannya ?

Jika orang tua suka memaksa kehendak  pada anak dipastikan akan berdampak tidak baik bagi anak. Dialog orang tua dengan anak adalah metode Qur’ani, membiasakan berdialog dengan anak untuk menentukan keputusan akan membuat anak memiliki harga diri, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Pilihlah waktu yang tepat saat berdialog dengan anak, misalnya setelah anak kenyang setelah makan atau menjelang anak tidur, insya Allah anak akan senang diajak berdialog dengan orang tuanya. Namun orangtua janganlah menjadikan dialog sebagai upaya memaksakan kehendak orang tua .

Mari kita kaji di Al Qura’an surat Ibrahim ayat 37-41, bagaimaa Nabi Ibrahim As berperan sebagai pemdidik utama dalam keluarganya. Beliau adalah orang tua yang banyak mendoakan anak-anak dan keluarganya  dan menyandarkan keharapannya hanya pada Allah.

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [Ibrahim: 37-41]
Doa di atas adalah do`a Nabi Ibrahim, yang darinya kita dapat memetik beberapa hikmah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mendidik putranya .

Pertama ; Mencari, membentuk lingkungan yang baik.

Representasi lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah].  Terdapat nilai lebih jika kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, karena memudahkan mereka mencintai masjid. Bila kita kesulitan menemukan masjid, maka hendaknya kita tetap berusaha mencarikan dan membentuk  lingkungan yang baik bagi putra-putri kita.

Kedua ; Mendidik anak agar mendirikan shalat.

Nabi Ibrahim secara khusus berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat.
“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS Ibrahim :40)

Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak,  “Suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun”. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Ketiga ; Mendidik anak agar disenangi banyak orang.
Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari].

Keempat ;  Mendidik anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang.
Anak dididik untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]

Kelima ;  Mendidik anak dengan mempertebal terus keimanan, hingga merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Keenam ; Mendidik anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

[salimah.org]

Memaknai Idul Adha sebagai Momentum untuk Meredam Ego Pribadi

Memaknai Idul Adha sebagai Momentum untuk Meredam Ego Pribadi


 
Gambar dari http://nemukabar.blogspot.com/
Takbir menggema dari masjid ke masjid, surau ke surau sebagai tanda umat muslim merayakan Idul Adha pada 10 Zulhijjah. Sementara itu, pada tanggal tersebut jamaah haji kembali ke Mina untuk melakukan jumrah aqabah. Umat muslim yang tidak berhaji akan berbondong-bondong melakukan shalat Idul Adha kemudian melakukan ibadah qurban.

Praktik ibadah qurban merupakan manifestasi keimanan seseorang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim yang pada waktu itu diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Namun beliau teruji keimanannya sehingga Allah menggantikan putra Nabi Ibrahim tersebut dengan hewan qurban.

Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya ibadah qurban terus meningkat. Kita bisa melihat jumlah hewan qurban yang disembelih di berbagai tempat mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari peran para da’i yang selalu berdakwah kepada masyarakat.

Ibadah qurban sendiri memiliki makna yang begitu mendalam di samping nilai ibadah di sisi Allah. Ibadah qurban bukan sekadar penyembelihan hewan dan pendistribusian daging hewan qurban kepada masyarakat. Berapa lama daging yang diberikan itu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? Tetapi yang lebih penting adalah kesan ibadah qurban itu bagi individu yang berqurban.

Berqurban dari segi ubudiyah dapat dimaknai sebagai bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari segi muamalah (sosial), berqurban dapat dimaknai sebagai pengorbanan yang ikhlas kepada orang lain dalam bentuk daging qurban. Lebih dari itu, seseorang yang berqurban pada hakikatnya harus menyadari bahwa pengorbanan yang ikhlas tersebut bukan hanya sebatas memberi daging qurban. Pengorbanan harus diartikan secara luas, dalam hal ini mampu mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Momentum untuk Meredam Ego Pribadi
Kita masih sering melihat seseorang yang merokok seenaknya di tempat umum tanpa memedulikan orang lain, bahkan di tempat yang sudah ditulis larangan merokok sekalipun. Demikian juga seseorang yang menyerobot antrean atau seseorang yang dengan seenaknya membuang bungkus makanan melalui jendela mobil mewahnya. Apatah lagi, seorang wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat namun kenyataannya mengkhianati rakyat dengan cara yang begitu keji yaitu korupsi.

Kejadian-kejadian seperti itu sangat sering terjadi dan dilakukan oleh semua kalangan, dari rakyat jelata hingga konglomerat di istana. Kejadian yang mungkin masih dilakukan oleh orang-orang yang telah berqurban, namun belum bisa memaknai ibadah qurban itu sendiri dan belum bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang telah berqurban harus mampu mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Apalagi kepentingan diri sendiri itu dapat merugikan orang lain. Orang yang telah berqurban akan lebih berhati-hati dan mawas diri, mengontrol emosi dan perilakunya agar tidak merugikan orang lain.

Masih ingat dalam benak kita tentang kisah para sahabat Rasulullah SAW. Alkisah tersebutlah seorang sahabat yang memberikan kepala kambing kepada sahabat yang lain. Namun sahabat tersebut merasa bahwa ada sahabat yang lain yang lebih membutuhkan sehingga kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat yang menurutnya lebih membutuhkan itu. Begitu seterusnya hingga kepala kambing tersebut kembali kepada sahabat pertama yang memberi kepala kambing.

Alangkah indahnya jika kita mampu berqurban dan berkorban untuk orang lain bukan hanya saat berqurban di hari raya Idhul Adha. Kita mampu berqurban kepada siapapun, di mana pun, dan dalam kondisi seperti apapun. Terutama kepada kerabat, teman, tetangga, dan orang-orang di sekitar kita. Sebab, mukmin yang baik adalah mukmin yang berguna bagi mukmin yang lainnya.
Semoga, Idul Adha kali ini memberikan makna yang berarti, baik bagi yang berqurban maupun yang menerima qurban. Berqurban bukan sekadar ritual tanpa makna.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H

[kompasiana_sholehan]

Berita Photo: Fieldtrip SD Juara Jogja ke Gambira Loka

Rabu, 16 Oktober 2013

Berita Photo: Fieldtrip SD Juara Jogja ke Gambira Loka


Siswa kelas 4 beserta Bapak Guru berpose sebelum masuk ke kebun binatang gambira loka

Terlihat beberapa siswa lagi mengamati ikan-ikan yang ada di kolam


Anak-anak berpose dengan orang hutan  asal Kalimantan. Orang hutan tersebut biasa di panggil dengan nama "DESI"

Ana-anak dan bapak ibu guru menyaksikan pertunjukan atraksi hewan-hewan.



Field trip: SD Juara ke Gambira Loka



Kunjungan SD Juara ke Gambira Loka
 

        Pada hari Jumat, 11  Oktober 2013, semua murid Sekolah Dasar Juara pergi ke kebun binatang “Gembira Loka” di Yogyakarta. Siswa pergi ke “Gembira Loka” dengan tiga bis gratis bantuan dari donator Ardians Transport, siswa masuk kebun binatang untuk melihat semua hewan. Pemandu yang ramah menjelaskan beberapa tentang hewan-hewan di sana. Anak-anak sudah heboh untuk melihat hewan, dan mereka senang sekali serta menikmati perjalanan. Di sana ada banyak ular, kadal, serangga dan hewan seperti harimau dan gorilla atau gajah. Tempat dari kebun binatang sangat indah dengan banyak pohon dan tumbuhan dan danau besar dengan rumah makan untuk banyak tamu.  
         Siswa dari SD Juara juga melihat sirkus yang menampilkan kepiawaian beberapa binatang. Ketika  anak-anak boleh memegang orang utan, semua anak bahagia sekali karena itu merupakan pengalaman menarik. Setelah makan siang di “Gembira Loka”, murid-murid capek dan pulang dengan bis dari Ardians Transport. Hari itu sangat menyenangkan bagi semua siswa dan guru, dan kami tidak akan lupa kunjungan di “Gembira Loka” itu. [Lorenz]




Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga