Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Sudahkah Kita Memuliakan Ibu..

Minggu, 22 Desember 2013


SD Juara Jogja: Sejarah tidak pernah mengenal agama atau aturan apa pun yang memuliakan dan mengangkat derajat serta kedudukan perempuan sebagai seorang ibu sedemikian tinggi, selain Islam. Perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu datang segera setelah perintah-Nya untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Islam mejadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu pangkal pokok kebaikan dan menjadikan hak ibu lebih besar ketimbang bapak. Hak ibu lebih besar daripada bapak karena ibu menanggung beban berat saat mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Hal ini ditegaskan al-Qur`an dan diulanginya pada lebih dari satu surat agar para anak memerhatikan dan mencamkannya di jiwa dan hati mereka.

Firman-Nya:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (QS al-Ahqâf/46: 15).
Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS Luqmân/31: 14).

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits berikut,
Seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw. dan bertanya:

“Ya Rasulullah,
siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu” (HR Bukhârî).

Berbuat baik pada ibu meliputi antara lain memperlakukannya dengan baik, menghormati, merendahkan diri, menaati selain dalam maksiat, dan meminta ridhanya dalam segala urusan. Bahkan dalam berjihad, jika jihadnya fardu kifayah, haruslah atas seizin ibu. Berbakti pada ibu juga merupakan jihad.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata:

“Ya Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk meminta nasihatmu.” Beliau bertanya: “Kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di kedua kakinya” (HR al-Nasâ`î).

Beberapa ajaran pra-Islam mengabaikan posisi dan kemuliaan ibu. Lalu Islam datang dengan seperangkat ajaran yang memuliakan serta menjunjung tinggi martabat dan kedudukan ibu. Bukan hanya ibu; bibi—baik bibi dari pihak ayah maupun dari pihak ibu—pun dimuliakan Islam begitu rupa. Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw. dan berkata:

“Aku telah melakukan dosa besar. Adakah kesempatan bagiku bertobat?” Nabi Saw. bersabda: “Apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah kamu masih punya khâlah (bibi dari pihak ibu)?” Ia menjawab: “Ya.” Nabi bersabda: “Maka berbuat baiklah kepadanya” (HR. Tirmidzî).

Dalam hal ini, di antara ajaran Islam paling mengagumkan adalah bahwa Islam tetap menyuruh berbuat baik kepada ibu walaupun ia seorang musyrik. Asmâ` bint Abi Bakr bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana ia berhubungan dengan ibunya yang musyrik. Nabi Saw. berkata padanya:

“Ya, tetaplah berhubungan dengan ibumu” (HR Muslim).

Di antara perhatian serta penghargaan Islam terhadap ibu dan hak-haknya adalah bahwa ia menjadikan ibu lebih berhak atas pengasuhan anak-anaknya daripada ayah. Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw.:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu di perutku ia hidup, dari payudaraku ia menetek, dan di punggungku ia kugendong. Kemudian bapaknya menceraikanku dan bermaksud merebutnya dariku.” Nabi Saw. berkata padanya: “Kamu lebih berhak atas anakmu itu selama kamu belum menikah”
(HR Abû Dâwud).

‘Umar dan istri yang diceraikannya mengadu kepada Abû Bakar tentang anak mereka, ‘Âshim. Abû Bakar pun memutuskan bahwa ‘Âshim jatuh ke tangan ibunya. Kepada ‘Umar, Abû Bakar berkata: “Aroma mantan isterimu, penciumannya, dan kata-katanya lebih baik untuk anakmu daripada kamu.” Kekerabatan ibu lebih dekat dan lebih utama dari bapak dalam hal kepengasuhan anak.

Al-Qur`an mengabadikan beberapa nama ibu salehah sebagai pelajaran dan arahan bagi kaum Mukmin. Bagi pembinaan iman, kisah mereka memiliki pengaruh yang cukup signifikan.

Ada ibunda Nabi Mûsâ yang memenuhi petunjuk Allah lewat ilham untuk menghanyutkan anaknya, belahan jiwanya, ke sungai Nil. Ia yakin seutuhnya akan janji Tuhan yang akan mengembalikan anaknya.

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul” (QS al-Qashash/28: 7).

Ada ibunda Siti Maryam yang menazarkan janin di rahimnya untuk Allah. Dia berdoa setulus hati kepada Allah supaya Dia menerima nazanya:

“Terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Âli ‘Imrân/3: 35).

Ketika bayi yang lahir ternyata perempuan—tidak seperti yang dia angankan—ibunda Maryam tetap menunaikan nazarnya seraya memohon kepada Allah untuk menjaga anaknya (Maryam) dari segala keburukan:

“Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk” (QS Âli ‘Imrân/3: 36).

Kemudian Maryam puteri ‘Imrân, ibunda ‘Îsâ al-Masî h. Al-Qur`an menjadikannya ikon kesucian, pengabdian kepada Allah dan keyakinan akan ayat-ayat-Nya:

Dan Maryam puteri ‘Imrân yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat (QS al-Tahrîm/66: 12).

Islam tidak mengkhususkan tanggal tertentu untuk merayakan hari ibu, sebab Islam memuliakan ibu sepanjang hayatnya, bahkan setelah kematiannya. Adalah kewajiban para anak untuk memuliakan, berbuat baik, dan menjaga ibu mereka setiap saat, setiap waktu. Ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik, berjuang, berkorban, dan menanggung banyak beban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu selalu menjaga nikmat yang dianugerahkan Allah, yakni nikmat umûmah (keibuan), membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran. Seorang ibu begitu berharga dan mulia, selamanya. Tidak ada pilihan selain memuliakan dan berbuat baik kepadanya, setiap saat—baik selagi ia masih hidup maupun setelah meninggal.

Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:

Ibu: Perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.

Ibu: Padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.

Ibu: Kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.

Ibu: Makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.

Ibu: Teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.

Ibu: Sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.

Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup.
untuk menghitung keutamaan ibu serta semua haknya untuk mendapatkan penghormatan, pemuliaan, perlakuan baik dan pengabdian. Namun mungkin kita bisa menyimpulkan sosok ibu dalam kata-kata singkat ini:

“Ketulusan dan pengorbanan dalam keseluruhan bentuk dan maknanya.” Al-Qur`an memberikan perhatian khusus terhadap ibu dan menyuruh manusia untuk memerhatikannya. Perhatian khusus itu diberikan terutama karena ibu telah menanggung banyak beban demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup anak-anaknya. Allah telah memerintahkan berbakti kepada ibu, melarang mendurhakainya, dan mengaitkan ridha-Nya dengan ridha ibu. Nabi Saw. pun mewanti-wantikan tentang hak ibu. Dibanding ayah, ibu lebih berhak untuk mendapatkan budi baik dari anak-anaknya. Dalam hal ini, keutamaan ibu atas ayah dikarenakan dua hal:

Pertama , ibu menanggung beban mengandung anak, melahirkan, menyusui, mengurus, mengasuh, dan mendidiknya. QS Luqmân/31: 14 menegaskan hal ini.

Kedua , fithrah kasih sayang, kelembutan, cinta, dan perhatian ibu lebih besar dari ayah.

Di antara bukti betapa besarnya kasih sayang ibu adalah bahwa betapa pun durhakanya seorang anak kepada ibunya, ibu akan melupakan kedurhakaan anaknya itu ketika sang anak tertimpa musibah atau mendapat kesulitan hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu menghitung atau menakar hak orang tua atas anak-anaknya. Di antara dua orang tua, ibulah yang lebih berhak atas segala pengabdian, budi baik, pemuliaan dan penghormatan anak.

Islam sangat menjunjung tinggi dan mensucikan hubungan atau ikatan dengan ibu. Untuk menjaga kesucian ini, Islam mengharamkan menikah dengan ibu:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu (QS al-Nisâ`/4: 23).

Dengan tegas Islam menyatakan bahwa ikatan suami-istri tidak akan pernah berubah menjadi ikatan anak-ibu. Sangat jauh perbedaan antara keduanya:

Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (QS al-Ahzâb/33: 4).

Ada baiknya di sini ditampilkan kata-kata para tokoh & sebagai seorang anak tentang sosok ibu :


“Keibuan adalah anugerah terbesar yang Tuhan peruntukkan bagi kaum perempuan” (Marry Hopkins).

“Tidak ada di dunia ini bantal yang lebih lembut dari pangkuan ibu” (Shakespear).

“Aku tidak akan menamaimu wanita. Aku akan menamaimu segalanya” (Ma hmûd Darwîsy).

“Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Dia adalah pelipur lara dalam kesedihan, pembawa harapan dalam keputusasaan, dan kekuatan dalam kelemahan” (Kahlil Gibran).

“Tanpa ibu, umat tidak akan ada. Karena ibulah umat ada” (Khalil Mathran).

“Jika dunia ada di tangan yang satu dan ibu di tangan satunya lagi, pastilah aku pilih tangan di mana ibu berada” (Jean Jaques Rouseou).

“Ibulah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengoyang (mengguncang) dunia dengan tangan kirinya” (Napoleon Bonaparte).

“Di dunia, hanya satu yang lebih baik dari istri; ibu” (Syafir).

“Tidak ada dalam hidup ini seorang perempuan yang menghibahkan seluruh hidup, kasih sayang dan cintanya tanpa meminta imbalan, selain ibu. Maka berilah ia, ya Tuhan, umur yang lebih panjang dari umur manusia” (Schuber).

“Satu-satunya tempat di mana aku dapat menyandarkan kepala padanya dan tidur di dalamnya dengan tenang dan nyaman, adalah pangkuan ibu” (Voltaire).

“Ketika aku menunduk mencium tanganmu, mencucurkan airmata di dadamu, dan menangkap tanda rela dari sorot matamu; hanya ketika itu aku merasakan kesempurnaan diri sebagai seorang laki-laki” (Islam Syamsuddîn).

“Tak ada sesuatu pun di dunia yang lebih manis dari hati ibu” (Martin Luther).

“Anda boleh melupakan segala hal tentangku, kecuali apa yang telah diajarkan ibu kepadaku” (Nixon).

“Ibu selalu mencintai dan hanya mengetahui cinta” (Cyrus).

“Seandainya seluruh semesta menjadi kecil, maka ibu akan tetap besar” (Victor Hugo).

“Segala yang dikerahkan oleh para bapak tidak akan sebanding dengan satu kasih sayang saja dari kasih sayang ibu yang tanpa batas” (Voltaire).

“Lantunan terlembut dan senandung terindah hanya dapat diberikan oleh hati ibu” (Bethoven).

“Saat paling bahagia bagi seorang wanita; saat dimana ia merasakan kesejatian dan keabadian dirinya sebagai wanita serta sebagai ibu, adalah saat ia melahirkan” (‘Abbâs Ma hmûd al-‘Aqqâd).
Sumber: Fb. Renungan dan Kisah Inspiratif


Gerakan Indonesia Juara, Didik Anak Indonesia Berkualitas

Senin, 16 Desember 2013

Gerakan Indonesia Juara, Didik Anak Indonesia Berkualitas

Pendidikan berkualitas yang diberikan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berbau akademik, tetapi disesuaikan dengan potensi serta minat siswanya.


AGAR anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa menikmati pendidikan gratis yang berkualitas, Indonesia Juara Foundation (IJF) meluncurkan Gerakan Indonesia Juara.

“Kelahiran gerakan ini bertujuan untuk  memperjuangkan dan memfasilitasi pendidikan berkualitas yang merata bagi semua anak Indonesia,” ujar Ketua Gerakan Indonesia Juara, Arif Taat Ujiyanto di Bandung, Minggu (17/11/2013).

Ia menerangkan, selama ini banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu mengalami kesulitan mendapatkan akses pendidikan.

Agar para siswa memiliki lifeskill, pendidikan berkualitas yang diberikan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berbau akademik, tetapi disesuaikan dengan potensi serta minat siswanya.

“Gerakan Indonesia Juara sepanjang 2013 telah mengelola pendidikan formal di 12 kota terdiri 14 sekolah gratis berkualias dengan menberikan pelayanan kepada 141.566 orang. Selain itu, telah membinat 227 wilayah di 30 cabang penyaluran se Indonesia,” terangnya.

[Sumber: Pelitaonline]



Gerakan Indonesia Juara Diluncurkan

BANDUNG -- Indonesia Juara Fondation (IJF) meluncurkan Gerakan Indonesia Juara untuk memperjuangkan dan memfasilitasi pendidikan berkualitas yang merata bagi semua anak Indonesia.

"Gerakan ini lahir karena masih banyaknya anak-anak dari keluarga kurang mampu yang cenderung kesulitan mendapatkan akses pendidikan," kata Ketua Gerakan Indonesia Juara Arif Taat Ujiyanto di Bandung, Ahad.
Menurut Arif, gerakan ini bertujuan anak-anak dari keluarga kurang mampu itu bisa mendapatkan pendidikan tak hanya gratis tapi berkualitas, bahkan pendidikan berkualitas yang diberikan juga bukan hanya terbatas pada hal-hal yang berbau akademik.

"Berkualitas berarti bahwa sekolah dapat memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan potensi dan minat para siswanya, sehingga mereka memiliki lifeskill," kata Arif.

Sepanjang 2013, Gerakan Indonesia Juara telah memberikan layanan pendidikan kepada 141.566 orang, mengelola Pendidikan Formal 14 Sekolah Gratis Berkualitas untuk masyarakat yang membutuhkan di 12 kota, serta membina 227 wilayah di 30 cabang penyaluran se-Indonesia.

Salah satu siswa yang menerima pendidikan gratis berkualitas adalah Ilham. Saat ini, Ilham duduk di bangku kelas VII SMP Juara Bandung. Meskipun penghasilan orang tuanya sebagai pedagang hanya Rp300.000 per bulan, namun Ilham tetap bisa mendapatkan pendidikan gratis berkualitas, bahkan meraih prestasi membanggakan.


"Ilham pernah meraih medali perak dan perunggu dalam turnamen pencak silat tingkat Jawa Barat di tahun 2012 dan 2013. Dia pun tercatat sebagai penghafal Al Quran di sekolahnya," kata Kepala SMP Juara Bandung Jajang Sudarsa.

[Sumber: Republika]

[Video] Pembelejaran IPA kelas 4 SD Juara Jogja

Jumat, 06 Desember 2013


[Video] Pembelejaran IPA kelas 4 SD Juara Jogja

Oleh: Aris Nurkholis


Kegiatan pembelajaran pengamatan ekosistem taman sekolah



Pendidikan Karakter Lewat Opera

Rabu, 20 November 2013

Membangun Generasi Beradab Bersama SD Juara Jogjakarta
(Sekolah Gratis Berkualitas Binaan Rumah Zakat)



Pendidikan Karakter akan terus menjadi agenda besar di negeri ini, khususnya di dunia pendidikan. Semua upaya dilakukan demi keberhasilan agenda ini.

Karena sesungguhnya Pendidikan karakter ini mengarah pada bagaimana mendidik generasi bangsa ini menjadi bangsa yang beradab maka rujukan yang akan digunakan adalah satu generasi yang agung dan mulia, yang memiliki peradaban tinggi dan nilai nilai kemanusiaan yang Rabbani.Merekalah generasi yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian diikuti oleh para sahabatnya.

Untuk itu SD Juara Jogjakarta (Sekolah Gratis Berkualitas Binaan Rumah Zakat)  bermaksud menggelar acara dengan tema “Parenting Entertraining Juara Muhammad Tauladanku (Spirit Boom mendidik Anak Beradab)”. Acara yang akan diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2013 ini dikemas seperti opera dengan harapan akan lebih mudah dicerna dan dimaknai oleh Audiense mengingat seminar dan workshop dengan tema yang sama sudah terlalu banyak dilakukan dan mungkin sudah terlalu sering diikuti. Akan ada lagu, Puisi,monolog dan Dialog yang dirangkai menjadi satu kemasan acara pagelaran seni dan Muhasabah mulai dari jam 08.00 WIB – 14.30 WIB. Didukung oleh siswa siswa SD Juara Jogjakarta berserta segenap guru yang akan memainkan opera di gedung Multpurpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Acara ini didukung oleh SDI (Sygma Daya Insani) sebuah penerbit buku buku ensiklopedi yang banyak menerbitkan buku tentang pengenalan Allah Rasulullah Muhammad SAW.

Semoga menjadi inspirasi.

SD Juara Jogja Field Trip ke Sogan Batik bersama Ardian Transport

Selasa, 19 November 2013

SD Juara Jogja Field Trip ke Sogan Batik bersama Ardian Transport


          
Kamis, 2 Mei 2013 , Senyum Community berkerjasama dengan Ardian Transport mengadakan kegiatan wisata bisnis dengan SD Juara Yogyakarta (Rumah Zakat). Kegiatan ini diikuti oleh murid-murid SD Juara Jogja yang didampingi oleh bapak-ibu guru. Kegiatan ini bertempat di Sogan Batik Rejodani, Ngaglik, Sleman. Peserta dan Panitia kumpul di SD juara pukul 08.00 WIB, dan keberangkatannya pukul 08.30 WIB, dan sampai di Sogan Batik pukul 09.00 WIB.

Pada acara ini ada sosialisasi dan penjelasan dari pengelola Sogan Batik Rejodani yaitu Bapak Taufik kepada siswa-siswi SD Juara, Pada kesempatan ini Bapak Taufik menjelaskan kepada siswa-siswi SD Juara tentang Sejarah Sogan Batik, Alat dan bahan pembuatan batik, dan proses pembuatan batik. Lebih lanjut Bapak Taufik menjelaskan tentang produk-produk yang telah dihasilkan oleh Sogan Batik Rejodani.
Dalam sesi tersebut, siswa-siswi SD Juara sangat antusias dalam memperhatikan penjelasan tentang batik sogan rejodani. Di akhir sesi  banyak para murid yang bertanya kepada bapak Taufik untuk mengetahui lebih jauh tentang pembuatan batik.

Setelah itu, anak-anak langsung melihat proses  pembuatan batik, dari mulai membuat motif batik, proses pewarnaan,  proses penghilangan lilin batik dengan cara pengerakan dan melarod   dan tahap terakhir adalah proses pencucian dan penjemuran.

Setelah melihat proses pembuatan batik, anak-anak menuju tempat koleksi-koleksi hasil dari kerajinan batik, seperti baju batik, selendang, dan pernak-pernik lainya, mayoritas koleksi tersebut adalah baju-baju batik. Bahkan beberapa siswa mencoba melakukan proses membatik.

Kegiatan ini ditujukan untuk murid-murid SD Juara agar dapat menambah wawasan mereka tentang batik dan mengetahui proses pembuatan batik. Menurut Dinda salah satu murid kelas 2 saat di wawancarai,  “senang sekali dengan kegiatan ini, karena bisa belajar membatik secara langsung”, ujarnya.

Salah satu Guru yang ikut mendampingi Murid-murid, namanya Ibu Tri Pendamping kelas 1 bahwa acara ini sangat bagus, karena mendukung pelajaran SBK, karena kelas 4,5,6 ada mata pelajaran SBK, yaitu Batik juga, jadi anak-anak bisa mengetahui proses langsung pembuatan batik dan melihat koleksi-koleksi batik secara luas. “Kendala-kendalanya hanya susah dalam mengkondisikan anak-anak agar bisa tertib. Maklum saja, karena anak-anak itu masih suka bermain kesana kemari, jadi harus butuh ekstra untuk menkondisikan anak-anak “,imbuhnya

Ibu Tri berharap dengan adanya dari Senyum Community untuk kedepannya  kegiatan ini tetap berkelanjutan menjadi positif dan bermanfaat. Karena dengan kegiatan ini bisa membantu anak-anak dalam belajar dan menghibur anak-anak. Tapi yang menjadi saran hanya saja dari pihak senyum community tidak ada sesi perkenalan, jadi dari pihak sekolah tidak tahu nama-nama dari panitia, dan bingung kalau mau memanggil kakak-kakak dari senyum community.

Kegiatan proses belajar membatik ini pun berlangsung hingga pukul 11.30, dan dilanjutkan dengan ishoma. Pukul 13.00 kegiatan ini pun selesai dan seluruh peserta pulang menuju SD juara. (sumber: Senyum Komunity)


SD Juara Jogja: Juara 1 Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) ke-21 LIPI 2013

Senin, 18 November 2013





Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengadakan kompetisi ilmiah yakni Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-21.

"Kegiatan rutin setiap tahun ini merupakan wujud komitmen LIPI dalam menghargai karya dan kreativitas ilmiah anak bangsa dengan menjaring 2.500 karya inovasi penelitian dan 103 finalis," kata Kepala Biro Kerja sama dan Pemasyarajatan Iptek (BKPI) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono di Jakarta, Kamis (14/11013).

Pameran karya ilmiah dan presentasi finalis mulai diselenggarakan pada tanggal 14 November 2013 dan ditujukan bagi siswa, mahasiswa, dan guru, dan pengumuman pemenang pada tanggal 15 November 2013 bertempat di LIPI Jakarta.

Tim Dewan Juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tahun 2013 mengumumkan para pemenang Lomba Karya Ilmiah Guru ke-21, Jumat (15/11) lalu, di Widya Graha LIPI Jakarta.

Adapun Pemenang Pertama tingkat SD LKIG 21 LIPI adalah Suranti, S.Pd dari SD Juara, Yogyakarta dengan judul karya tulis “Pengembangan Model Pembelajaran Outbound Kids dalam Meningkatkan Pemahaman Kesadaran Hak dan Kewajiban Anak di Kelas 1 SD Juara Yogyakarta”.

Dalam lomba tersebut, Suranti, S.Pd. memaparkan penelitiannya tentang pengembangan model pembelajaran outbond kids dalam rangka meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban anak di kelas 1 SD Juara Yogyakarta. Dalam penelitiannya dapat disimpulkan bahwa pengembangan model pembelajaran outbonds kids dapat meningkatkan pemahaman kesadaran hak dan kewajiban siswa. Dalam pembelajaran outbond kids tersebut dilaksanakan dengan rancangan full game sehingga pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan.

Selain Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) ke-21. LIPI juga menyelenggarakan kompetisi ilmiah lainnya yaitu: Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-45, National Young Inventors Award (NYIA) ke-6, dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-12.

Dalam lomba kompetisi tersebut masing-masing peserta finalis mempresentasikan karyanya masing-masing dihadapan para juri. Para dewan juri tersebut terdiri dari para peneliti LIPI, Direktorat Jenderal HAKI Kementerian Hukum dan HAM RI, Badaan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dan akademisi Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Teknologi Bandung telah menyeleksi 2.500 karya inovasi. Dari ribuan karya tersebut, terseleksi 103 finalis yang masih berkompetisi lagi untuk menjadi para pemenang di setiap kompetisi.

Kepala Biro Kerja sama dan Pemasyarakatan Iptek (BKPI) LIPI Dr. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono menyatakan, LIPI terus mendorong tumbuhnya kesadaran Iptek di masyarakat. “Kompetisi ini bukan mendidik untuk menjadi juara dan nomor satu, tapi mendorong untuk berpikir ilmiah. Sehingga, jika kelak mereka menjadi pengambil kebijakan, maka akan menggunakan pertimbangan ilmiah dalam proses pengambilannya,” jelas Bogie. Pemenang selain mendapatkan piagam dan piala, juga mendapatkan uang tunai. Namun lebih daripada itu tujuan utama dari kegiatan ini diharapkan agar mampu memotivasi para guru untuk mencintai iptek dan mengembangkan kreativitas melalui penelitian dan kesadaran budaya meneliti,” kata Ketua LIPI di awal acara.

Di olah oleh: Aris Nurkholis (dari beberapa sumber)


IJF Luncurkan Gerakan Indonesia Juara

IJF Luncurkan Gerakan Indonesia Juara


 
Bandung. Dalam rangka – perjuangkan pendidikan berkualitas yang merata bagi semua anak Indonesia, Indonesia Juara Foundation  (IJF) meluncurkan Gerakan Indonesia Juara di Auditorium FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu (16/11).

Gerakan ini tercetus karena melihat untuk memperoleh pendidikan berkualitas di Indonesia dibutuhkan biaya yang besar. “Sehingga untuk anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, memperoleh pendidikan yang berkualitas cenderung lebih sulit. Gerakan ini bertujuan agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang tak hanya gratis tapi juga berkualitas,” ungkap Ketua Gerakan Indonesia Juara, Arif Taat Ujiyanto.

Sepanjang 2013, Gerakan Indonesia Juara telah memberikan layanan pendidikan kepada 141.566 orang, mengelola Pendidikan Formal 14 Sekolah Gratis Berkualitas untuk masyarakat yang membutuhkan di 12 kota, dan membina 227 wilayah di 30 cabang penyaluran se-Indonesia.

“Pendidikan berkualitas yang diberikan bukan hanya terbatas pada hal-hal yang berbau akademik. Berkualitas berarti bahwa sekolah dapat memberikan pendidikan dan pegajaran sesuai dengan potensi dan minat para siswanya, sehingga mereka memiliki life skill,” kata Arif.

Salah satu siswa yang menerima pendidikan gratis berkualitas adalah Ilham. Saat ini Ilham duduk di bangku kelas VII SMP Juara Bandung. Meskipun penghasilan orang tuanya sebagai penjual agar-agar hanya Rp300.000 per bulan, namun Ilham tetap bisa mendapatkan pendidikan gratis berkualitas, bahkan memperoleh prestasi.

“Alhamdulillah Ilham pernah meraih medali perak dan perunggu dalam turnamen pencak silat tingkat Jawa Barat di tahun 2012 dan 2013. Dia pun tercatat sebagai penghafal Al Qur’an di sekolahnya,” ungkap Jajang Sudarsa, Kepala SMP Juara Bandung. (linda/sbb/dakwatuna)



Sumber:
 dakwatuna

SD Juara Jogja Mempersembahkan Entertraining Parenting Juara

Rabu, 13 November 2013

SD Juara Jogja Mempersembahkan:
Entertraining Parenting Juara 

" Spirit Boom Mendidik Anak Beradab"


Mendidik anak beradab bukanlah perkara yang mudah. Tantangannya pada masa kini semakin besar.  Keteladanan mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik anak-anak kita. Nabi Muhammad SAW adalah sosok teladan yang luar biasa dalam mendidik anak beradab. Bagaimana menghadirkan Allah SWT dan Rosulullah ke dalam jiwa buah hati kita? Temukan jawabannya pada acara Entertraining Parenting Juara “Muhammad SAW Tauladanku, Spirit Boom Mendidik Anak Beradab.

Dengan Menghadirkan Pembicara :
  1. Benny Triandi, SE. MA.  (Direktur Sygma Daya Insani)
  2. Sigit Baskoro, ST.   (Musisi, Prodeser dan Pencipta Lagu Anak Edukatif)
  3. Budi Hadiastuti, S.Pd.  (Kepala Sekolah SD Juara Yogyakarta, Rumah Zakat. Penulis dan Pencipta Lagu Anak Edukatif)
  4. Bunda Fatimah   (Pendiri Fun Math, Psikolog)

Waktu dan Tempat Pelaksanaan:
Hari/Tanggal       : Ahad, 1 Desember 2013
Pukul                  : 07.00 – 15.00
Tempat               : Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
                            Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta

Pemesanan Tiket:
Reguler                    : Rp. 50.000,- (free Lunch + CD Senandung Pesan Nabi)
VIP                         : Rp. 100.000,- (free Lunch + Al Quran)
(Tempat Terbatas)

Transer Pembayaran Tiket:
Rek. Bank Mandiri : 1300033355507
a.n. PT. Sygma Daya Insani

Dapatkan Doorprize Menarik Selama Acara Berlangsung Berupa Voucer Senilai Rp. 300.00,-

Pusat Informasi:
SDI Pusat                              : 022 7208298
SDI Yogyakarta                    : 0274 418309 / 081 328 814 479
Rumah Zakat Cabang Jogja   : 0274 377671
SD Juara Yogyakarta            : 0274 565849

Mari Hadir dengan 1000 orang lainnya sebagai keluarga pencinta Sirah Nabi.

Belajar Mendidik Anak dari Nabi Ibrahim As.

Jumat, 18 Oktober 2013

Belajar Mendidik Anak dari Nabi Ibrahim

Ditengah maraknya metode pendidikan anak yang ditawarkan,  hadir spiritual parenting berazaskan pada metode yang di ajarkan Allah dalam Al Qur’an dan contoh dari Rasulullah. Dalam Islam peran ayah dalam mendidik anaknya ternyata sangat dominan sebagaimana di kisahkan    dalam Al Quran. Di antaranta kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan Ismail anaknya, Kisah Lukman yang memberikan pelajaran dengan cara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang pada anaknya dapat di temui dalam Al Quran .

Talkshow “Spiritual Parenting” yang di selenggarakan oleh PP Salimah, Ibu Nurul Hidayati , ketua Umum PP salimah  mengingatkan kita untuk belajar dari Nabi Ibrahim yang mengajak berdialog anaknya Ismail,   untuk membuat keputusan sendiri dalam hidupnya.

Sebagai mana ayat firman Allah : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. 37:102

Dalam ayat ini terjadi  dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail tentang perintah penyembelihan Ismail, dan beliau berdua berhasil melalui ujian yang nyata tersebut dengan amat sabar, dan Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar .

Bagaimana kah cara nya Nabi Ibrahim mendidik anak-anak nya hingga memiliki kesabaran dan ketaat yang sempurna pada Tuhannya ?

Jika orang tua suka memaksa kehendak  pada anak dipastikan akan berdampak tidak baik bagi anak. Dialog orang tua dengan anak adalah metode Qur’ani, membiasakan berdialog dengan anak untuk menentukan keputusan akan membuat anak memiliki harga diri, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Pilihlah waktu yang tepat saat berdialog dengan anak, misalnya setelah anak kenyang setelah makan atau menjelang anak tidur, insya Allah anak akan senang diajak berdialog dengan orang tuanya. Namun orangtua janganlah menjadikan dialog sebagai upaya memaksakan kehendak orang tua .

Mari kita kaji di Al Qura’an surat Ibrahim ayat 37-41, bagaimaa Nabi Ibrahim As berperan sebagai pemdidik utama dalam keluarganya. Beliau adalah orang tua yang banyak mendoakan anak-anak dan keluarganya  dan menyandarkan keharapannya hanya pada Allah.

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [Ibrahim: 37-41]
Doa di atas adalah do`a Nabi Ibrahim, yang darinya kita dapat memetik beberapa hikmah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mendidik putranya .

Pertama ; Mencari, membentuk lingkungan yang baik.

Representasi lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah].  Terdapat nilai lebih jika kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, karena memudahkan mereka mencintai masjid. Bila kita kesulitan menemukan masjid, maka hendaknya kita tetap berusaha mencarikan dan membentuk  lingkungan yang baik bagi putra-putri kita.

Kedua ; Mendidik anak agar mendirikan shalat.

Nabi Ibrahim secara khusus berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat.
“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS Ibrahim :40)

Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak,  “Suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun”. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Ketiga ; Mendidik anak agar disenangi banyak orang.
Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari].

Keempat ;  Mendidik anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang.
Anak dididik untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]

Kelima ;  Mendidik anak dengan mempertebal terus keimanan, hingga merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Keenam ; Mendidik anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

[salimah.org]

Memaknai Idul Adha sebagai Momentum untuk Meredam Ego Pribadi

Memaknai Idul Adha sebagai Momentum untuk Meredam Ego Pribadi


 
Gambar dari http://nemukabar.blogspot.com/
Takbir menggema dari masjid ke masjid, surau ke surau sebagai tanda umat muslim merayakan Idul Adha pada 10 Zulhijjah. Sementara itu, pada tanggal tersebut jamaah haji kembali ke Mina untuk melakukan jumrah aqabah. Umat muslim yang tidak berhaji akan berbondong-bondong melakukan shalat Idul Adha kemudian melakukan ibadah qurban.

Praktik ibadah qurban merupakan manifestasi keimanan seseorang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim yang pada waktu itu diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Namun beliau teruji keimanannya sehingga Allah menggantikan putra Nabi Ibrahim tersebut dengan hewan qurban.

Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya ibadah qurban terus meningkat. Kita bisa melihat jumlah hewan qurban yang disembelih di berbagai tempat mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari peran para da’i yang selalu berdakwah kepada masyarakat.

Ibadah qurban sendiri memiliki makna yang begitu mendalam di samping nilai ibadah di sisi Allah. Ibadah qurban bukan sekadar penyembelihan hewan dan pendistribusian daging hewan qurban kepada masyarakat. Berapa lama daging yang diberikan itu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? Tetapi yang lebih penting adalah kesan ibadah qurban itu bagi individu yang berqurban.

Berqurban dari segi ubudiyah dapat dimaknai sebagai bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari segi muamalah (sosial), berqurban dapat dimaknai sebagai pengorbanan yang ikhlas kepada orang lain dalam bentuk daging qurban. Lebih dari itu, seseorang yang berqurban pada hakikatnya harus menyadari bahwa pengorbanan yang ikhlas tersebut bukan hanya sebatas memberi daging qurban. Pengorbanan harus diartikan secara luas, dalam hal ini mampu mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Momentum untuk Meredam Ego Pribadi
Kita masih sering melihat seseorang yang merokok seenaknya di tempat umum tanpa memedulikan orang lain, bahkan di tempat yang sudah ditulis larangan merokok sekalipun. Demikian juga seseorang yang menyerobot antrean atau seseorang yang dengan seenaknya membuang bungkus makanan melalui jendela mobil mewahnya. Apatah lagi, seorang wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat namun kenyataannya mengkhianati rakyat dengan cara yang begitu keji yaitu korupsi.

Kejadian-kejadian seperti itu sangat sering terjadi dan dilakukan oleh semua kalangan, dari rakyat jelata hingga konglomerat di istana. Kejadian yang mungkin masih dilakukan oleh orang-orang yang telah berqurban, namun belum bisa memaknai ibadah qurban itu sendiri dan belum bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang telah berqurban harus mampu mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Apalagi kepentingan diri sendiri itu dapat merugikan orang lain. Orang yang telah berqurban akan lebih berhati-hati dan mawas diri, mengontrol emosi dan perilakunya agar tidak merugikan orang lain.

Masih ingat dalam benak kita tentang kisah para sahabat Rasulullah SAW. Alkisah tersebutlah seorang sahabat yang memberikan kepala kambing kepada sahabat yang lain. Namun sahabat tersebut merasa bahwa ada sahabat yang lain yang lebih membutuhkan sehingga kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat yang menurutnya lebih membutuhkan itu. Begitu seterusnya hingga kepala kambing tersebut kembali kepada sahabat pertama yang memberi kepala kambing.

Alangkah indahnya jika kita mampu berqurban dan berkorban untuk orang lain bukan hanya saat berqurban di hari raya Idhul Adha. Kita mampu berqurban kepada siapapun, di mana pun, dan dalam kondisi seperti apapun. Terutama kepada kerabat, teman, tetangga, dan orang-orang di sekitar kita. Sebab, mukmin yang baik adalah mukmin yang berguna bagi mukmin yang lainnya.
Semoga, Idul Adha kali ini memberikan makna yang berarti, baik bagi yang berqurban maupun yang menerima qurban. Berqurban bukan sekadar ritual tanpa makna.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H

[kompasiana_sholehan]

Berita Photo: Fieldtrip SD Juara Jogja ke Gambira Loka

Rabu, 16 Oktober 2013

Berita Photo: Fieldtrip SD Juara Jogja ke Gambira Loka


Siswa kelas 4 beserta Bapak Guru berpose sebelum masuk ke kebun binatang gambira loka

Terlihat beberapa siswa lagi mengamati ikan-ikan yang ada di kolam


Anak-anak berpose dengan orang hutan  asal Kalimantan. Orang hutan tersebut biasa di panggil dengan nama "DESI"

Ana-anak dan bapak ibu guru menyaksikan pertunjukan atraksi hewan-hewan.



Field trip: SD Juara ke Gambira Loka



Kunjungan SD Juara ke Gambira Loka
 

        Pada hari Jumat, 11  Oktober 2013, semua murid Sekolah Dasar Juara pergi ke kebun binatang “Gembira Loka” di Yogyakarta. Siswa pergi ke “Gembira Loka” dengan tiga bis gratis bantuan dari donator Ardians Transport, siswa masuk kebun binatang untuk melihat semua hewan. Pemandu yang ramah menjelaskan beberapa tentang hewan-hewan di sana. Anak-anak sudah heboh untuk melihat hewan, dan mereka senang sekali serta menikmati perjalanan. Di sana ada banyak ular, kadal, serangga dan hewan seperti harimau dan gorilla atau gajah. Tempat dari kebun binatang sangat indah dengan banyak pohon dan tumbuhan dan danau besar dengan rumah makan untuk banyak tamu.  
         Siswa dari SD Juara juga melihat sirkus yang menampilkan kepiawaian beberapa binatang. Ketika  anak-anak boleh memegang orang utan, semua anak bahagia sekali karena itu merupakan pengalaman menarik. Setelah makan siang di “Gembira Loka”, murid-murid capek dan pulang dengan bis dari Ardians Transport. Hari itu sangat menyenangkan bagi semua siswa dan guru, dan kami tidak akan lupa kunjungan di “Gembira Loka” itu. [Lorenz]




Guru Itu....

Kamis, 28 Februari 2013



GURU Itu...


Guru yang baik saat mengajar bukan soal sifat si guru tersebut tapi soal kemampuan mengatur irama pembelajaran. Guru bukan hanya golongan ulama. Namun, orang yang mau mengajarkan dan membelajarkan ilmu. Seorang guru tidak cukup hanya ia mampu membuat peserta didiknya mendapat nilai 100, tetapi ia juga mempunyai karakter atau akhlak yang baik, guru yang profetik.
Guru adalah profesi, dan tentunya profesionalitas guru sangat berkaitan dengan unsur manajemen kerja guru. Dan hal yang harus dicari solusinya apakah semua guru telah mempunyai kemauan yang kuat untuk terus belajar? Munif Chatib (2010: 29) memaparkan guru harus mempunyai kompetensi profesional yakni penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Rumus menjadi guru yang profesional dan islami 6A dan 5C.

6 Action, meliputi:
  1. merancang lesson plan kreatif dan media edukatif,
  2. masuk kelas lebih awal, dalam keadaan fresh sudah berwudlu,
  3. menebar 5S dan sampaikan apersepsi,
  4. menerapkan multiple intelligences,
  5. melakukan Ice breaking efektif dan kreatif,
  6. mengevaluasi di setiap akhir pembelajaran.
5  Charakter yang meliputi:
1        .      Aqidah lurus
2        .      Ibadah benar
3        .      Akhlak karimah yaitu: rendah hati, pandai manajemen waktu, menghargai proses
4        .      Wawasan  terbuka
5        .      Percaya diri

  By. Suranti

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga