Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Jangan Sebut Anak Anda “Nakal”

Minggu, 23 September 2012




 “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.

Makna Idul Fitri

Minggu, 02 September 2012


                                                           Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

REPUBLIKA.CO.ID. Hari Raya Idul Fitri sebagai epos penyempurna pascapuasa Ramadan menjadi sangat berarti ketika kemerdekaan kembali direngkuh. Manusia sebagai insan yang tidak pernah lepas dari salah dan lupa akan menemukan fitrahnya kembali apabila hari kemenangan ini dapat kita maknai dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar ritual yang habis manis sepah dibuang. Atau bergembira ria di hari Lebaran, selepas salat Ied berlalu segala sifat, mentalitas, dan perbuatan buruk mencuat kembali dan menorehkan tinta hitam di kertas putih dan suci.

"...dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS al-Baqarah:185)

Pertanyaannya, apakah title ‘manusia suci’ itu hilang pasca perayaan Idul Fitri? Pertanyaan itu mengemuka tak kala banyak di antara kita yang perlahan-lahan mulai menghilangkan semangat beribadah bulan suci Ramadan. Semangat beribadah yang menggebu-gebu di saat bulan Ramadan seakan-akan tertelan dengan kesibukan mengejar material duniawi.

Patut diakui, meraih kemenangan apapun bentuknya seakan lebih mudah daripada menjaga kemenangan itu sendiri. Hiruk pikuk kehidupan duniawi seakan-akan membius umat Islam untuk kembali berprilaku menyimpang dari agama. Jika demikian, maka kita termasuk orang-orang yang merugi.

 



Berpuasa yang bermakna al-imsak atau menjaga atau menahan hawa nafsu sehingga tidak menimbulkan kerusakan tentu tidak berarti apa-apa. Puasa selama 1 bulan penuh yang seharusnya bisa menjadi spirit bagi kita untuk tetap bisa terjaga dan terhindar dari prilaku kerusakan dan kejahatan, hanya sekadar rutinitas tahunan saja. Jiwa Ramadan benar-benar tidak kita peroleh.

Sepatutnya kita berbangga ketika diberikan kesempatan mengikuti ‘pelatihan spiritual’ selama bulan suci Ramadan lalu. Sebab, selama bulan Ramadan, kita dilatih untuk imsak‘an (menahan diri) dan imsak bi (berpegang teguh kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya).

Prof Jalaludin Rahmat juga mengartikan orang yang imsak bi berarti orang yang memiliki keyakinan yang dipegang teguh. Ia berusaha tegak di atas keyakinan itu. Sekali ia memutuskan sesuatu yang benar, ia akan mempertahankannya dengan seluruh hidupnya.

Dalam berpuasa itu, umat Islam dilatih menjadi manusia imsak bi, manusia yang mempertahankan keyakinan. Selama Ramadan kita dilatih kejujuran; untuk bersikap dan berkata jujur. Bisa saja kita makan dan minum seenaknya di tempat tempat yang tertutup dan sunyi yang tidak terlihat oleh siapapun. Akan tetapi karena kita yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, dan hati kita bersikap jujur.

Sepatutnya pula ‘materi-materi’ pelatihan itu terus kita aplikasikan selama 11 bulan ke depan. Nilai-nilai Ramadan dapat menjadikan kita sebagai manusia yang dapat menghindari kepribadian al mutalawwin (bunglon) dan mempertahankan konsistensi. Tidak mudah menjadi manusia yang dapat menjaga konsistensi, terlebih konsistensi beribadah di bulan suci Ramadan. Tidak salah jika ada yang menilai konsistensi adalah sifat langka dan mahal saat ini.

Menjaga sikap konsisten diumpamakan seperti memegang bara api menyala. Digenggam tangan terbakar, jika dilepas bara terancam padam. Tidak banyak umat Islam yang mau dan mampu menjalankannya. Melalui tulisan ini, ada baiknya saya menghimbau kepada umat Islam untuk tetap menjaga konsistensi semangat Idul Fitri. Semangat meraih kemenangan dan kesucian. Semangat menjadi manusia yang bertakwa. Amien.

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga