Blogger Widgets
News Update :

`

`

Kamus Ramadhan ش sampai ض

Jumat, 17 Agustus 2012


ش

شُّكْرُ

Syukru (Bersyukur)

Tidak berlebih-lebihan adalah salah satu bentuk rasa syukur.
Kebanyakan kita menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan membeli beragam makanan dan minuman yang tidak didapatkan di luar bulan Ramadhan.
Bagitupun kaum ibu-ibu, sibuk mempersiapkan bulan Ramadhan dengan berbagai macam makanan untuk berbuka yang melebihi kebutuhan keluarga sehingga terjadi tabzhir atau berlebihan. Berlebihan adalah teman setan.

Yang seharusnya dilakukan adalah pertengahan.
“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Ingat, bersyukur akan menambah kenikmatan lainnya.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

ص

صِيَامُ الصَّغِيْرِ

Shiamus Shagir (Biasakan Si Kecil Shaum)

Berusahalah memotivasi anak-anak untuk berpuasa, dan berikan  teladan kepada mereka untuk shalat. Kelak jika mereka sudah baligh, mereka tidak merasa mendapatkan beban yang berat.
Bahwa para sahabat –seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim- mengajarkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa, dan membuatkan mereka permainan dari kulit, jika mereka bertanya tentang makanan, merengek  meminta makanan, maka diberikan permainan sehingga membuat mereka lupa dan dapat menyempurnakan puasanya.
Al-hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hal tersebut ada alasan syar’i, yaitu melatih anak-anak kecil untuk berpuasa.

ض

ضَعْفٌ

Dha’fu (Lemah)

Jika kondisi tubuh lemah karena sakit, karena hamil atau menyusui yang dikhawatirkan membahayakan diri wanita tersebut atau janinnya, maka dibolehkan untuk berbuka dengan kewajiban meng-qadha’nya pada hari lainnya. Hal tersebut dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya: “Hukum orang yang hamil yang berat baginya berpuasa adalah seperti orang yang sakit, begitupun terhadap wanita yang sedang menyusui, maka dibolehkan pada dua kondisi tersebut untuk berbuka,”
“Maka bagi siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaklah –berbuka- dan menggantinya pada hari-hari lain.” (Al-Baqoroh:185)

Sebagian sahabat nabi saw. berpendapat, bagi wanita dalam dua kondisi di atas menggantinya dengan fidyah (memberi maka kepada fakir miskin sebanyak hari yang ditinggalkan) dan tidak perlu meng-qadha’nya.
Adapun siapa yang lemah, tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh maka baginya boleh berbuka (tidak puasa) dengan syarat menggantinya dengan fidyah, memberi makan fakir miskin.

“Dan bagi siapa yang tidak mampu maka hendaknya membayar fidyah berupa makan kepada fakir msikin.” (Al-Baqoroh:186)
Ibnu Abbas berkata:
“Telah diringankan bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa untuk berbuka dengan memberikan fidyah setiap hari bagi satu orang miskin.” (Fatwa Islam Tim Permanen, 2/138-ringkasan). [bersambung]

(Al-Ikhwan.net)

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga