Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Ramadhan; Pendidikan Karakter Bagi Anak

Jumat, 17 Agustus 2012


Oleh: Dhiyaudzdzikrillah, SP.

Selepas pulang mengaji seorang anak bertanya dengan serius, “Bu Guru, kapan kita puasa?” Ibu guru yang ditanya pun tersenyum sambil berkata, “Sebentar lagi nak. Kenapa nak? Kamu senang puasa?” Sang anak pun mengangguk dengan tersenyum sambil terus mengayunkan gandengantangan dengan gurunya.

Bulan suci yang dinanti umat muslim di dunia ini, terutama Indonesia, memang menjadi momen yang membahagiakan. Berkumpul bersama saudara. Membuat makanan berbuka dan melakukan berbagai aktivitas menyenangkan plus berpahala.

Begitu banyak pula respon dari tiap orang dengan kedatangan bulan puasa. Beberapa orang menganggap puasa sangat berat.  Menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenam matahari. Tak ayal juga beberapa orang kecewa atau bersedih hati ketika bulan puasa tiba, karena tidak dapat melakukan kebiasaan “kesenangannya.” Namun sebagian lainnya memaknai lebih. Puasa sebagai momen perubahan ke arah kebaikan serta menahan melakukan perbuatan dosa.

Bulan Ramadhan bagi anak mungkin asing, sehingga perlu diperkenalkan dan dipahami dengan sebaik-baiknya. Mengetahui dan memahami hakikat bulan suci umat muslim ini. Mulai dari puasa itu sendiri, memperbanyak membaca al-Qur’an, sampai membayar zakat dan ibadah lainnya.

Berpuasa dapat diperkenalkan sebagai bentuk pembelajaran menahan dan mengatur keinginan. Menahan lapar dan haus serta menahan untuk melakukan perbuatan dosa dan sia-sia. Berlatih bersabar.
Memunculkan pula sikap berbagi dan empati. Berbagi dengan teman atau sanak saudara seperti memberi makanan berbuka. Bersedekah semampunya kepada orang yang membutuhkan. Berempati pula terhadap saudara kita yang harus “berpuasa” setiap hari.

Bulan puasa juga dapat menjadi pembiasaan anak untuk shalat. Shalat wajib dan shalat sunnah seperti tarawih. Shalat pada dasarnya mengajarkan anak untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhannya. Shalat mengantarkan anak kita untuk senantiasa tunduk dan selalu rendah hati karena Allah yang menguasai segalanya.

Membaca Al-Qur’an atau iqro (pengantar Al-Qur’an) lebih dibiasakan lagi kepada anak. Sebagai seorang muslim, anak harus mengetahui cara membaca kitab sucinya dan terlebih memahami kandungannya. Banyak pelajaran yang bisa disampaikan kepada anak, seperti kisah para nabi beserta akhlaknya yang mulia.
“Saya tidak bisa shalat Pak karena saya tidak tahu dan mama tidak pernah mengajarkan,” ungkapan seperti ini sungguh menyedihkan. Anak memang perlu mendapat contoh kongkret seperti apa itu shalat dan ibadah lainnya. Dan terpenting mencobanya langsung sehingga menjadi pengalaman yang akan terus membekas.
Lebih miris lagi saat seorang anak diminta shalat tapi tidak mau dan berkata, “Ayah saja tidak shalat, kenapa saya harus shalat? Saya lebih senang menonton televisi!” Atau anak berbicara, “Aku lebih hebat daripada ayah…aku puasa tapi ayah nggak…ayah makan dan merokok”

Anak layaknya seperti kertas putih. Ia akan bermanfaat saat tulisan di atasnya ditulis dengan cara yang benar dan bermakna. Jika asal saja maka hanya guratan coretan di atas kertas bahkan jika terlalu keras dapat merobeknya. Lain lagi jika ditulis dengan benar tapi isi tulisan tidak bermakna maka ia akan sia-sia dan dibuang begitu saja. Begitulah perumpamaannya. Sungguh menjadi tanggung jawab besar para orangtua dan pendidik, dalam membentuk diri anak.

Dalam membentuk diri anak, proses imitasi atau meniru masih terbilang cara yang paling ampuh. Secara psikologi perkembangan, anak memiliki sifat holistik (menyeluruh/umum), kongkret, dan pengalaman langsung. Sifat seperti ini yang menjadi modal bagi orangtua dan pendidik untuk mencetak generasi seperti apa yang diharapkan.

Sepatutnyalah bulan yang penuh berkah ini dapat menjadi momen untuk anak meniru kebaikan. Wahai para orangtua dan pendidik, anak kita masih membutuhkan pendampingan dalam menjalani hidup ini.  Mereka membutuhkan teladan dan contoh yang baik. Mereka bukan orang dewasa yang mengerti dengan cepat. Mereka masih memerlukan bantuan mengenal dunia ini.

Mari ciptakan generasi yang berkarakter Islami. Jadikan Bulan Ramadhan sebagai momen perubahan pada kebaikan dan mencetak generasi yang Islami. Moga Bulan Ramadhan tahun ini, semakin banyak anak yang berkarakter Islami, cerdas, kuat dan berakhlak baik hingga waktu selanjutnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Telkomsel Serahkan Ambulance Rescue kepada Rumah Zakat


Oleh: Tim dakwatuna.com
 
Direktur SDM Telkomsel Herdy Rosjadi Harman (kedua dari kanan) didampingi Ketua MT Telkomsel Chairuddin (paling kanan) menyerah Ambulance Rescue secara simbolis. (ist)


dakwatuna.com – Jakarta. Sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan, Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) menyerahkan satu unit Ambulance Rescue kepada Rumah Zakat. Ambulance Rescue tersebut diserahkan secara simbolis oleh Direktur SDM Telkomsel Herdy Rosadi Harman didampingi Ketua Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) Chairuddin, kepada CEO Rumah Zakat Nur Efendi, pada acara buka bersama Direksi dan Karyawan Telkomsel di City Plaza, Jakarta, Senin (13/8).
Ketua Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT), Chairuddin, mengatakan penyerahan bantuan kepada Rumah Zakat dan lembaga sosial lainnya merupakan salah satu program penyaluran dana zakat dari karyawan Telkomsel yang dikelola oleh MTT. “Alhamdulillah dari dana zakat karyawan Telkomsel yang dikumpulkan melalui payroll zakat setiap bulan, MTT bisa menyalurkannya melalui lembaga-lembaga zakat yang terpercaya, salah satunya Rumah Zakat,” katanya.

Ia melanjutkan, bantuan Ambulance Rescue tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu. “Kami percaya bahwa melalui Rumah Zakat dana yang kami salurkan akan dapat membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu,” tutur Chairuddin saat ditemui di sela-sela berlangsunya acara.

Selain penyerahan ambulance, acara yang mengusung tema Spirit 3S Membentuk Pribadi Profesional dan Berakhlak Mulia itu juga dirangkai dengan santunan kepada ratusan anak yatim/piatu dari berbagai lembaga sosial. “Ini merupakan ungkapan syukur Telkomsel atas kepercayaan masyarakat Indonesia sehingga kini pelanggan terlomsel telah mencapai lebih dari 120 juta pelanggan. Sebagaimana firman Allah Swt bahwa barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambah nikmatnya,” katanya.

Sebagai operator seluler yang paling Indonesia, lanjut Chairuddin, Telkomsel akan terus peduli untuk membantu masyarakat Indonesia terutama kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dhuafa, dan anak-anak terlantar.

Sementara itu, CEO Rumah Zakat Nur Efendi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan sinergi yang terjalin antara Telkomsel dan Rumah Zakat. Tak lupa ia juga mengucapkan selamat atas meningkatnya pelanggan Telkomsel hingga 120 juta.

“Terima kasih kepada Telkomsel atas kepercayaannya kepada Rumah Zakat. Semoga dengan kepedulian Telkomsel, terlebih di bulan Ramadhan, Telkomsel akan terus maju menjadi Operator Seluler yang Paling Indonesia,” kata Efendi. (ist)

Kamus Ramadhan ش sampai ض


ش

شُّكْرُ

Syukru (Bersyukur)

Tidak berlebih-lebihan adalah salah satu bentuk rasa syukur.
Kebanyakan kita menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan membeli beragam makanan dan minuman yang tidak didapatkan di luar bulan Ramadhan.
Bagitupun kaum ibu-ibu, sibuk mempersiapkan bulan Ramadhan dengan berbagai macam makanan untuk berbuka yang melebihi kebutuhan keluarga sehingga terjadi tabzhir atau berlebihan. Berlebihan adalah teman setan.

Yang seharusnya dilakukan adalah pertengahan.
“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Ingat, bersyukur akan menambah kenikmatan lainnya.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

ص

صِيَامُ الصَّغِيْرِ

Shiamus Shagir (Biasakan Si Kecil Shaum)

Berusahalah memotivasi anak-anak untuk berpuasa, dan berikan  teladan kepada mereka untuk shalat. Kelak jika mereka sudah baligh, mereka tidak merasa mendapatkan beban yang berat.
Bahwa para sahabat –seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim- mengajarkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa, dan membuatkan mereka permainan dari kulit, jika mereka bertanya tentang makanan, merengek  meminta makanan, maka diberikan permainan sehingga membuat mereka lupa dan dapat menyempurnakan puasanya.
Al-hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hal tersebut ada alasan syar’i, yaitu melatih anak-anak kecil untuk berpuasa.

ض

ضَعْفٌ

Dha’fu (Lemah)

Jika kondisi tubuh lemah karena sakit, karena hamil atau menyusui yang dikhawatirkan membahayakan diri wanita tersebut atau janinnya, maka dibolehkan untuk berbuka dengan kewajiban meng-qadha’nya pada hari lainnya. Hal tersebut dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya: “Hukum orang yang hamil yang berat baginya berpuasa adalah seperti orang yang sakit, begitupun terhadap wanita yang sedang menyusui, maka dibolehkan pada dua kondisi tersebut untuk berbuka,”
“Maka bagi siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaklah –berbuka- dan menggantinya pada hari-hari lain.” (Al-Baqoroh:185)

Sebagian sahabat nabi saw. berpendapat, bagi wanita dalam dua kondisi di atas menggantinya dengan fidyah (memberi maka kepada fakir miskin sebanyak hari yang ditinggalkan) dan tidak perlu meng-qadha’nya.
Adapun siapa yang lemah, tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh maka baginya boleh berbuka (tidak puasa) dengan syarat menggantinya dengan fidyah, memberi makan fakir miskin.

“Dan bagi siapa yang tidak mampu maka hendaknya membayar fidyah berupa makan kepada fakir msikin.” (Al-Baqoroh:186)
Ibnu Abbas berkata:
“Telah diringankan bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa untuk berbuka dengan memberikan fidyah setiap hari bagi satu orang miskin.” (Fatwa Islam Tim Permanen, 2/138-ringkasan). [bersambung]

(Al-Ikhwan.net)

Ramadhan Dalam Bingkai Ekonomi



Bulan Ramadhan merupakan moment yang paling strategis bagi umat Islam untuk memperbaiki juga sebagai bahan introspeksi diri setelah melihat berbagai kekurangan-kekurangan yang telah dialami di masa lalu. Selama ini kerap timbul kesan bagi sebagian umat Islam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan berleha-leha menunggu kumandang adzan Maghrib.

Pemahaman seperti ini timbul dari salah baca terhadap makna Ramadhan yang sebenarnya. Secara etimologi, Ramadhan berasal dari akar kata “ramadl” yang berarti “membakar”. Artinya, Ramadhan adalah momentum umat Islam untuk membakar dosa lebih intensif dibandingkan bulan lain, sehingga usaha dan semangat beribadah pun mesti lebih masif dilakukan. Konon, para sahabat mempersiapkan penyambutan Ramadhan selama enam bulan. Enam bulan setelahnya, mereka khusyuk meminta kepada Allah SWT agar ibadah shaum-nya diterima.

Ramadhan adalah bulan suci yang penuh makna, sarat nilai, multi-hikmah dan bermega-pahala. Selain menyehatkan raga dan menenangkan jiwa, berpuasa juga mengajarkan hidup toleran, sederhana, dan bahkan produktif. Tidak hanya itu, Ramadhan turut meletakkan landasan pembangunan ekonomi umat.

Setiap kali Ramadhan datang, kita selalu menaruh harapan besar pada bulan suci itu. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai qur’ani. Tidaklah mengherankan jika tema-tema dakwah Ramadhan selalu mengarah kepada perubahan. Seolah-olah Ramadhan akan merubah segalanya. Kehidupan Politik yang nir etika berubah menjadi kehidupan politik yang berbingkai moral dan berpayung kesantunan. Akhlak yang kerap kali absen dalam kehidupan sosial budaya berubah menjadi kehidupan yang berkeadaban. Demikian pula kehidupan ekonomi kita yang sangat kapitalistik dan abai terhadap dhuafa dan mustadh’afin, berubah menjadi kehidupan ekonomi yang menjunjung nilai-nilai syariah.

Berkah Ekonomi Islam 

Yang sangat menarik, karunia di tengah Ramadhan tidak hanya hal-hal yang berdimensi ukhrawi, tapi aspek keduniaan pun cukup terbuka lebar terutama dimensi ekonomi. Fakta menunjukkan, para pelaku ekonomi meraih pendapatan besar atas kehadiran bulan suci Ramadhan. Tak sedikit di antara umat manusia yang berpuasa ataupun tidak, dari barisan Muslim ataupun umat lainnya merasakan manfaat besar dari kehadiran Ramadhan yang tersirkulasi atau terdistribusi secara menyeluruh, mulai dari wilayah perkotaan hingga pedesaan.

Tak dapat disangkal, roda ekonomi benar-benar tampak hidup selama bulan suci ini. Karena itu, tidaklah berlebihan jika sebagian umat manusia mengharapkan seluruh bulan (sepanjang tahun) menjadi Ramadhan, meski hal ini tidaklah mungkin. Keinginan ini sebagai implikasi positif atas tingkat pendapatan yang menaik tajam dan hal ini berbeda bila diperbandingkan bulan-bulan lainnya.

Apa hubungannya dengan ekonomi Islam? Menurut Ali Sakti pegiat ekonomi Islam BI (Bank Indonesia) menuturkan Ramadhan adalah bulan ekonomi Islam. Pertama, Ramadhan adalah bulan di mana manusia bisa jernih berfikir dan bertindak sehingga dakwah-dakwah tentang manusia yang bersahaja dalam bingkai ekonomi Islam sangat dekat dengan perilaku manusia-manusia Ramadhan. Kedua, Ramadhan menjadi bulan di mana manusia bersemangat menjalankan perintah-perintah Tuhan tanpa banyak bertanya alasan di baliknya. Ketiga, pada Ramadhan manusia tidak atau mungkin kurang mengedepankan hitungan-hitungan cost-benefit material. Pada bulan ini manusia mengedepankan hitungan cost-benefit spiritual, sebagai kompensasi dari kerakusan pada bulan di luar Ramadhan atau memang sebuah kesadaran yang tulus. Kita perhatikan, perilaku sedekah, infak dan zakat meningkat cukup dramatis di bulan ini.

Di sinilah, bulan Ramadhan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat Islam untuk melakukan aktivitas ekonomi sesuai ajaran agamanya: menanggalkan riba (bunga), menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa tidak saja berdimensi ibadah spiritual an-sich, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis. Sungguh aneh apabila ada orang berpuasa dengan khusyuk, tetapi melanggar ajaran-ajaran Allah dalam mu’amalah, seperti masih mempraktekkan riba yang diharamkan atau melakukan penipuan harga yang tidak pantas.

Implementasi aktivitas ekonomi Islam ini diharapkan dapat memperkuat sendi perekonomian umat yang puncaknya akan melahirkan social distributive justice (keadilan distribusi sosial). Harta tidak hanya berputar pada segelintir orang dengan mengoptimalkan konsep zakat, infak, shadaqah dan wakaf.

Spirit Kebangkitan Ekonomi Islam

Dalam konteks historis, bulan Ramadhan merupakan momentum penting dan monumental dalam kebangkitan dan kejayaan Islam. Telah banyak perubahan besar dalam sejarah dakwah Islam yang terjadi pada bulan ini. Ramadhan juga telah mengantarkan Islam tersebar ke semenanjung Afrika dan Eropa. Sementara dalam konteks ibadah, Ramadhan adalah bulan semangat dan motivasi untuk memperbaiki diri dengan sederet ketaatan. Saatnya generasi berikutnya menapaktilasi dan mengukir kembali kemenangan-kemenangan itu, merebut kembali peradaban Islam yang terampas. Maka, meraih peradaban mesti dilakukan dengan memperkuat aspek ekonomi itu. Kebangkitan Islam hanya akan terejawantah dalam wujudnya yang ideal ketika ekonomi Islam dapat membumi dan menjadi landasan aktivitas perekonomian umatnya.

Pesan implisit Ramadhan patut dijadikan masukan dalam membangun perekonomian umat dan bangsa ke depan. Pembangunan harus dimulai dengan membangun nilai nilai ekonomi Islam dalam kehidupan. Pemberdayaan sumber daya rakyat berdasarkan nilai-nilai Qurani harus diprioritaskan.

Gagasan negara sejahtera dapat terwujud, apabila pembangunan fisik dan spiritual (ketaqwaan) harus berjalan seimbang. Inilah model pembangunan ekonomi yang ideal. Selain faktor-faktor produksi, tingkat ketaqwaan juga merupakan “driving force” pembangunan ekonomi umat. Menurut Ramzan Akhtar (1993) dalam artikelnya “Modelling the economic growth of an Islamic economy” yang dipublikasikan di “The American Journal of Islamic Social Science (AJISS)” menyebutkan bahwa tanpa adanya rahmat Ilahi, maka pembangunan ekonomi sangatlah mustahil terjadi. Negara yang dihuni warga muttaqin pasti akan mendatangkan rahmat Ilahi sehingga terwujudlah negara sejahtera. Wallahualam.

Kamus Ramadhan خ sampai ذ

Rabu, 01 Agustus 2012



خ
خُرُوْجُ مِنَ الْمَنْزِلِ

Khuruj Minal Manzil (Keluar Dari Rumah)

Pada bulan Ramadhan umat Islam –laki-laki dan perempuan- sangat dianjurkan untuk keluar dari rumah mereka guna menunaikan shalat tarawih dan mendengarkan ta’lim di masjid.
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian ke masjid, namun di rumah lebih baik bagi mereka.” (Abu Daud ditashih oleh Al-Albani)

Muslimah keluar rumah dengan tetap melaksanakan hijab syar’i, sebagaimana yang disebutkan para ulama; menutupi seluruh badan, tidak menampakkan perhiasan, tidak tipis sehingga tembus padang, tidak ketat sehingga menampakkan lekuk tubuh, tidak mengumbar wewangian serta tidak menyerupai laki-laki dan laki-laki tidak menyerupai perempuan, tidak menyerupai orang-orang kafir, dan juga tidak berpakaian yang mengumbar syahwat.”
Jangan sia-siakan malam-malam yang agung di tempat-tempat perbelanjaan, dan tempat-tempat tiada guna lainnya.
د
دُّعَاءُ
Do’a (Berdoa)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina.”
“Doa adalah otak ibadah.” (Ahmad dan yang lainnya, dan ditashih oleh Al-Albani)

Karena itu jangan lewatkan saat-saat berharga pada bulan yang dimuliakan ini dengan bersungguh-sungguh bersimpuh dihadapan Allah swt., meminta dua kebaikan; dunia dan akhirat. Memperbanyak doa pada saat-saat mustajabah (doa-doa dikabulkan) seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw:
“Orang yang berpuasa hingga berbuka, orang yang sedang dalam perjalanan, orang tua terhadap anaknya, muslim kepada sesama muslim dari kejauhan, antara azan dan iqomat, pada sepertiga malam terakhir, pada waktu bersujud, pada saat turun hujan, dan pada akhir waktu hari jum’at.”

Ikhlas dalam berdoa, bersuara lembut dan tidak tergesa-gesa serta yakin dengan pengkabulan do’a, ingatlah hadits nabi saw:
“Sesungguhnya Tuhan kalian selalu hidup dan Maha dermawan, akan malu dari hamba-Nya jika mengangkat kedua tangannya, memohon kepada-Nya, kemudian Allah tidak mengkabulkannya.” (Abu Daud dan ditashihkan oleh Al-Albani)

Begitu pula jangan terlalu lemah dalam berdoa. Rasulullah saw. bersabda:
“Orang yang paling lemah adalah yang lemah saat berdoa dan orang yang bakhil adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam.” (Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani)

ذ
ذِّكْرُ
Dzikir (Mengingat Allah)

Perbanyak berdzikir, jangan pernah bosan lisan ini berdzikir, dalam kondisi apapun, bahkan saat melaksanakan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, belajar dan lain-lainnya. Yang demikian mentauladani Rasulullah saw, seperti yang diriwayatkan oleh Ummul Mukiminin, Aisyah ra, dia berkata:
“Bahwa Nabi saw selalu berdzikir kepada Allah setiap saat.” (Muslim)

Dan bergembiralah dengan hadits nabi saw. yang lain, nabi bersabda:
“Tiga perkara yang tidak ditolak doanya oleh Allah swt; Orang yang selalu (banyak) berdzikir, orang yang teraniaya dan imam yang adil.” (Baihaqi dan ditashih oleh Al-Albani)

“Seutama-utama dzikir adalah kalimat “La ilaha illallah dan seutama-utama doa adalah al-hamdulillah.” (An-Nasa’i ditashih oleh Al-Albani)

“Sebaik-baik ucapan adalah subhanallah, al-hamdulillah wa laa ilaha illallah, wallahu Akbar.” (Ahmad ditashih oleh Al-Albani)

“Dua kalimat yang ringan di lisan namun berat dalam timbangan dan dicintai oleh yang Maha Rahman: “Subhanallah wa bihamdihi subhannallahil adzim.” (Bukhari)
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Bukhari) . (Al-Ikhwan.net)
[bersambung]

SD JUARA JOGJA AKRIDITASI INTERNAL

Yogyakarta (01/8/12); SD Juara Yogyakarta adalah salah satu sekolah dasar di Indonesia dibawah naungan Lembaga Amil Zakat "Rumah Zakat".  Berdirinya SD Juara merupakan salah astu wujud kepedulian Rumah Zakat dibidang pendidikan. SD Juara Yogyakarta berdiri pada tahun 2009, dari tahun ke tahun perkembangan cukup membanggakan. SD Juara Jogja sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas. Di tahun 2010 jumlah siswa tercatat sebanyak 39 siswa, kemudian di tahun 2010 bertambah menjadi 69 siswa, pada tahun 2011 bertambah lagi menjadi 106 siswa dan saat ini pada tahun keempat SD Juara Jogja tercatat sebanyak 129 siswa. walaupun usianya yang masih relatif belia, SD Juara Jogja sudah menorehkan banyak prestasi bahkan terakhir salah satu siswi SD Juara Yogya masuk ke dalam selaksi tahap II Olimpiade Sains Kuark.

Dari tahun ke tahun SD Juara terus berupaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan. salah satu upaya tersebut SD Juara Jogja melakukan Akriditasi Internal yang di audit langsung oleh tim audit/asesor dari Yayasan Indonesia Juara Pusat. Akriditasi Internal dilakukan besuk hari Kamis-Jumat (2-3 agustus 2012). berbagai upaya telah diupayakan guna terus meningkatkan kualitas/ mutu SD Juara Yogya. Mudah-mudahan dengan adanya akriditasi Internal ini akan terus memacu pihak kami untuk terus berbenah menuju sekolah yang berkualitas. (Ar)

Kamus Ramadhan

Kamus Ramadhan; أ sampai ت


Subhanallah, ternyata huruf-huruf hijaiyah dua puluh delapan dalam konteks Ramadhan sangat syarat pengetahuan dan nilai. Berikut ini kami hadirkan secara bersambung pengatahuan dan nilai itu, mulai huruf Alif sampai huruf Ya’ :
أ
إِحْتِسَاب
Ihtisab (Mengharap Pahala Allah)
Maksudnya adalah berharap dan memohon pahala dan ridha Allah swt. dalam melaksanakan aktivitas Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
 “Barangsiapa berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)
 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْء
“Barangsiapa  memberi buka orang yang berpuasa maka baginya –pahala- seperti orang yang berpuasa, tanpa dikurangi sedikitpun ganjaran orang yang berpuasa.” (Ahmad dan ditashih oleh Al-Albani)
ب
بَشَاَرَةُ
Basyarah (Kabar Gembira)

Kita bersyukur kepada Allah swt. karena kita berjumpa bulan Ramadhan, bulan penuh kabar gembira. Rasulullah saw. bersabda: “Jika pada malam pertama bulan Ramadhan maka setan-setan diikat, jin-jin diusir, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan tidak akan ditutup selamanya. Pada setiap malamnya ada yang menyeru: wahai pelaku kebajikan datanglah. Wahai pelaku kejahatan kurangilah. Allah akan melepaskan hamba-Nya dari neraka, dan hal itu dilakukan setiap malam Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Albani)
“Sesungguhnya didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq alaih)
Para salafus shalih jika memasuki bulan Ramadhan mereka berdoa: “Ya Allah, Dzat yang telah menaungi kami di bulan Ramadhan, jadikan kami untuknya, anugrahkan kepada kami puasanya dan qiyamnya, anugrahkan pula kepada kami kesungguhan, kekuatan, kegairahan,  keseriusan, dan jauhkan kami dari fitnah-fitnah di bulan Ramadhan ini.”

ت
تَّرَاوِيْحُ
Tarawih (Shalat Tarawih)

Di antara keistimewaan bulan Ramadhan adalah disyariatkannya shalat tarawih. Imam al-hafidz Ibnu Hajar berkata bahwa makna tarawih adalah jama’ dari tarwiyah yaitu berkumpulnya umat islam dan beristirahat antara dua salam.
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bangun (shalat) tarawih di bulan Ramadhan dengan dilandasi iman dan berharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih)
Shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah.

إِنَّهُ مَنْ صَلَّى مَعَ الإِِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa shalat bersama imam (terawih) hingga selesai maka ditulis baginya seperti melakukan shalat qiyamullail.” (HR. Ahlu sunan)
Jumlah rekaat shalat tarawih atau qiyamu Ramadhan boleh sebelas rekaat, dua puluh tiga rekaat, dua puluh tujuh rekaat, atau tiga puluh tiga rekaat. “Rasulullah tidak menginginkan pada bulan Ramadhan dan juga pada waktu lainnya kecuali 11 rakaat, beliau shalat 4 rakaat dan jangan ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya, kemudian shalat lagi 4 rakaat dan jangan ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat.” (Imam Al Bukhari)

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, bahwa beliau melaksanakan shalat sunat tarawih 23 rekaat.
Perbedaan rekaat tidaklah menjadi soal, karena ini masalah fiqih. Yang lebih penting untuk dikedepankan adalah pelaksanaan shalat tarawih dengan hikmat dan menjaga persatuan umat muslim. (al-ikhwan.net) (bersambung)

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga