Blogger Widgets
News Update :

`

`
BERITA TERKINI :

Entri Populer

Jangan Sebut Anak Anda “Nakal”

Minggu, 23 September 2012




 “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.

Makna Idul Fitri

Minggu, 02 September 2012


                                                           Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

REPUBLIKA.CO.ID. Hari Raya Idul Fitri sebagai epos penyempurna pascapuasa Ramadan menjadi sangat berarti ketika kemerdekaan kembali direngkuh. Manusia sebagai insan yang tidak pernah lepas dari salah dan lupa akan menemukan fitrahnya kembali apabila hari kemenangan ini dapat kita maknai dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar ritual yang habis manis sepah dibuang. Atau bergembira ria di hari Lebaran, selepas salat Ied berlalu segala sifat, mentalitas, dan perbuatan buruk mencuat kembali dan menorehkan tinta hitam di kertas putih dan suci.

"...dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS al-Baqarah:185)

Pertanyaannya, apakah title ‘manusia suci’ itu hilang pasca perayaan Idul Fitri? Pertanyaan itu mengemuka tak kala banyak di antara kita yang perlahan-lahan mulai menghilangkan semangat beribadah bulan suci Ramadan. Semangat beribadah yang menggebu-gebu di saat bulan Ramadan seakan-akan tertelan dengan kesibukan mengejar material duniawi.

Patut diakui, meraih kemenangan apapun bentuknya seakan lebih mudah daripada menjaga kemenangan itu sendiri. Hiruk pikuk kehidupan duniawi seakan-akan membius umat Islam untuk kembali berprilaku menyimpang dari agama. Jika demikian, maka kita termasuk orang-orang yang merugi.

 



Berpuasa yang bermakna al-imsak atau menjaga atau menahan hawa nafsu sehingga tidak menimbulkan kerusakan tentu tidak berarti apa-apa. Puasa selama 1 bulan penuh yang seharusnya bisa menjadi spirit bagi kita untuk tetap bisa terjaga dan terhindar dari prilaku kerusakan dan kejahatan, hanya sekadar rutinitas tahunan saja. Jiwa Ramadan benar-benar tidak kita peroleh.

Sepatutnya kita berbangga ketika diberikan kesempatan mengikuti ‘pelatihan spiritual’ selama bulan suci Ramadan lalu. Sebab, selama bulan Ramadan, kita dilatih untuk imsak‘an (menahan diri) dan imsak bi (berpegang teguh kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya).

Prof Jalaludin Rahmat juga mengartikan orang yang imsak bi berarti orang yang memiliki keyakinan yang dipegang teguh. Ia berusaha tegak di atas keyakinan itu. Sekali ia memutuskan sesuatu yang benar, ia akan mempertahankannya dengan seluruh hidupnya.

Dalam berpuasa itu, umat Islam dilatih menjadi manusia imsak bi, manusia yang mempertahankan keyakinan. Selama Ramadan kita dilatih kejujuran; untuk bersikap dan berkata jujur. Bisa saja kita makan dan minum seenaknya di tempat tempat yang tertutup dan sunyi yang tidak terlihat oleh siapapun. Akan tetapi karena kita yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, dan hati kita bersikap jujur.

Sepatutnya pula ‘materi-materi’ pelatihan itu terus kita aplikasikan selama 11 bulan ke depan. Nilai-nilai Ramadan dapat menjadikan kita sebagai manusia yang dapat menghindari kepribadian al mutalawwin (bunglon) dan mempertahankan konsistensi. Tidak mudah menjadi manusia yang dapat menjaga konsistensi, terlebih konsistensi beribadah di bulan suci Ramadan. Tidak salah jika ada yang menilai konsistensi adalah sifat langka dan mahal saat ini.

Menjaga sikap konsisten diumpamakan seperti memegang bara api menyala. Digenggam tangan terbakar, jika dilepas bara terancam padam. Tidak banyak umat Islam yang mau dan mampu menjalankannya. Melalui tulisan ini, ada baiknya saya menghimbau kepada umat Islam untuk tetap menjaga konsistensi semangat Idul Fitri. Semangat meraih kemenangan dan kesucian. Semangat menjadi manusia yang bertakwa. Amien.

Ramadhan; Pendidikan Karakter Bagi Anak

Jumat, 17 Agustus 2012


Oleh: Dhiyaudzdzikrillah, SP.

Selepas pulang mengaji seorang anak bertanya dengan serius, “Bu Guru, kapan kita puasa?” Ibu guru yang ditanya pun tersenyum sambil berkata, “Sebentar lagi nak. Kenapa nak? Kamu senang puasa?” Sang anak pun mengangguk dengan tersenyum sambil terus mengayunkan gandengantangan dengan gurunya.

Bulan suci yang dinanti umat muslim di dunia ini, terutama Indonesia, memang menjadi momen yang membahagiakan. Berkumpul bersama saudara. Membuat makanan berbuka dan melakukan berbagai aktivitas menyenangkan plus berpahala.

Begitu banyak pula respon dari tiap orang dengan kedatangan bulan puasa. Beberapa orang menganggap puasa sangat berat.  Menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenam matahari. Tak ayal juga beberapa orang kecewa atau bersedih hati ketika bulan puasa tiba, karena tidak dapat melakukan kebiasaan “kesenangannya.” Namun sebagian lainnya memaknai lebih. Puasa sebagai momen perubahan ke arah kebaikan serta menahan melakukan perbuatan dosa.

Bulan Ramadhan bagi anak mungkin asing, sehingga perlu diperkenalkan dan dipahami dengan sebaik-baiknya. Mengetahui dan memahami hakikat bulan suci umat muslim ini. Mulai dari puasa itu sendiri, memperbanyak membaca al-Qur’an, sampai membayar zakat dan ibadah lainnya.

Berpuasa dapat diperkenalkan sebagai bentuk pembelajaran menahan dan mengatur keinginan. Menahan lapar dan haus serta menahan untuk melakukan perbuatan dosa dan sia-sia. Berlatih bersabar.
Memunculkan pula sikap berbagi dan empati. Berbagi dengan teman atau sanak saudara seperti memberi makanan berbuka. Bersedekah semampunya kepada orang yang membutuhkan. Berempati pula terhadap saudara kita yang harus “berpuasa” setiap hari.

Bulan puasa juga dapat menjadi pembiasaan anak untuk shalat. Shalat wajib dan shalat sunnah seperti tarawih. Shalat pada dasarnya mengajarkan anak untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhannya. Shalat mengantarkan anak kita untuk senantiasa tunduk dan selalu rendah hati karena Allah yang menguasai segalanya.

Membaca Al-Qur’an atau iqro (pengantar Al-Qur’an) lebih dibiasakan lagi kepada anak. Sebagai seorang muslim, anak harus mengetahui cara membaca kitab sucinya dan terlebih memahami kandungannya. Banyak pelajaran yang bisa disampaikan kepada anak, seperti kisah para nabi beserta akhlaknya yang mulia.
“Saya tidak bisa shalat Pak karena saya tidak tahu dan mama tidak pernah mengajarkan,” ungkapan seperti ini sungguh menyedihkan. Anak memang perlu mendapat contoh kongkret seperti apa itu shalat dan ibadah lainnya. Dan terpenting mencobanya langsung sehingga menjadi pengalaman yang akan terus membekas.
Lebih miris lagi saat seorang anak diminta shalat tapi tidak mau dan berkata, “Ayah saja tidak shalat, kenapa saya harus shalat? Saya lebih senang menonton televisi!” Atau anak berbicara, “Aku lebih hebat daripada ayah…aku puasa tapi ayah nggak…ayah makan dan merokok”

Anak layaknya seperti kertas putih. Ia akan bermanfaat saat tulisan di atasnya ditulis dengan cara yang benar dan bermakna. Jika asal saja maka hanya guratan coretan di atas kertas bahkan jika terlalu keras dapat merobeknya. Lain lagi jika ditulis dengan benar tapi isi tulisan tidak bermakna maka ia akan sia-sia dan dibuang begitu saja. Begitulah perumpamaannya. Sungguh menjadi tanggung jawab besar para orangtua dan pendidik, dalam membentuk diri anak.

Dalam membentuk diri anak, proses imitasi atau meniru masih terbilang cara yang paling ampuh. Secara psikologi perkembangan, anak memiliki sifat holistik (menyeluruh/umum), kongkret, dan pengalaman langsung. Sifat seperti ini yang menjadi modal bagi orangtua dan pendidik untuk mencetak generasi seperti apa yang diharapkan.

Sepatutnyalah bulan yang penuh berkah ini dapat menjadi momen untuk anak meniru kebaikan. Wahai para orangtua dan pendidik, anak kita masih membutuhkan pendampingan dalam menjalani hidup ini.  Mereka membutuhkan teladan dan contoh yang baik. Mereka bukan orang dewasa yang mengerti dengan cepat. Mereka masih memerlukan bantuan mengenal dunia ini.

Mari ciptakan generasi yang berkarakter Islami. Jadikan Bulan Ramadhan sebagai momen perubahan pada kebaikan dan mencetak generasi yang Islami. Moga Bulan Ramadhan tahun ini, semakin banyak anak yang berkarakter Islami, cerdas, kuat dan berakhlak baik hingga waktu selanjutnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Telkomsel Serahkan Ambulance Rescue kepada Rumah Zakat


Oleh: Tim dakwatuna.com
 
Direktur SDM Telkomsel Herdy Rosjadi Harman (kedua dari kanan) didampingi Ketua MT Telkomsel Chairuddin (paling kanan) menyerah Ambulance Rescue secara simbolis. (ist)


dakwatuna.com – Jakarta. Sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan, Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) menyerahkan satu unit Ambulance Rescue kepada Rumah Zakat. Ambulance Rescue tersebut diserahkan secara simbolis oleh Direktur SDM Telkomsel Herdy Rosadi Harman didampingi Ketua Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) Chairuddin, kepada CEO Rumah Zakat Nur Efendi, pada acara buka bersama Direksi dan Karyawan Telkomsel di City Plaza, Jakarta, Senin (13/8).
Ketua Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT), Chairuddin, mengatakan penyerahan bantuan kepada Rumah Zakat dan lembaga sosial lainnya merupakan salah satu program penyaluran dana zakat dari karyawan Telkomsel yang dikelola oleh MTT. “Alhamdulillah dari dana zakat karyawan Telkomsel yang dikumpulkan melalui payroll zakat setiap bulan, MTT bisa menyalurkannya melalui lembaga-lembaga zakat yang terpercaya, salah satunya Rumah Zakat,” katanya.

Ia melanjutkan, bantuan Ambulance Rescue tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu. “Kami percaya bahwa melalui Rumah Zakat dana yang kami salurkan akan dapat membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu,” tutur Chairuddin saat ditemui di sela-sela berlangsunya acara.

Selain penyerahan ambulance, acara yang mengusung tema Spirit 3S Membentuk Pribadi Profesional dan Berakhlak Mulia itu juga dirangkai dengan santunan kepada ratusan anak yatim/piatu dari berbagai lembaga sosial. “Ini merupakan ungkapan syukur Telkomsel atas kepercayaan masyarakat Indonesia sehingga kini pelanggan terlomsel telah mencapai lebih dari 120 juta pelanggan. Sebagaimana firman Allah Swt bahwa barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambah nikmatnya,” katanya.

Sebagai operator seluler yang paling Indonesia, lanjut Chairuddin, Telkomsel akan terus peduli untuk membantu masyarakat Indonesia terutama kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dhuafa, dan anak-anak terlantar.

Sementara itu, CEO Rumah Zakat Nur Efendi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan sinergi yang terjalin antara Telkomsel dan Rumah Zakat. Tak lupa ia juga mengucapkan selamat atas meningkatnya pelanggan Telkomsel hingga 120 juta.

“Terima kasih kepada Telkomsel atas kepercayaannya kepada Rumah Zakat. Semoga dengan kepedulian Telkomsel, terlebih di bulan Ramadhan, Telkomsel akan terus maju menjadi Operator Seluler yang Paling Indonesia,” kata Efendi. (ist)

Kamus Ramadhan ش sampai ض


ش

شُّكْرُ

Syukru (Bersyukur)

Tidak berlebih-lebihan adalah salah satu bentuk rasa syukur.
Kebanyakan kita menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan membeli beragam makanan dan minuman yang tidak didapatkan di luar bulan Ramadhan.
Bagitupun kaum ibu-ibu, sibuk mempersiapkan bulan Ramadhan dengan berbagai macam makanan untuk berbuka yang melebihi kebutuhan keluarga sehingga terjadi tabzhir atau berlebihan. Berlebihan adalah teman setan.

Yang seharusnya dilakukan adalah pertengahan.
“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Ingat, bersyukur akan menambah kenikmatan lainnya.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

ص

صِيَامُ الصَّغِيْرِ

Shiamus Shagir (Biasakan Si Kecil Shaum)

Berusahalah memotivasi anak-anak untuk berpuasa, dan berikan  teladan kepada mereka untuk shalat. Kelak jika mereka sudah baligh, mereka tidak merasa mendapatkan beban yang berat.
Bahwa para sahabat –seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim- mengajarkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa, dan membuatkan mereka permainan dari kulit, jika mereka bertanya tentang makanan, merengek  meminta makanan, maka diberikan permainan sehingga membuat mereka lupa dan dapat menyempurnakan puasanya.
Al-hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hal tersebut ada alasan syar’i, yaitu melatih anak-anak kecil untuk berpuasa.

ض

ضَعْفٌ

Dha’fu (Lemah)

Jika kondisi tubuh lemah karena sakit, karena hamil atau menyusui yang dikhawatirkan membahayakan diri wanita tersebut atau janinnya, maka dibolehkan untuk berbuka dengan kewajiban meng-qadha’nya pada hari lainnya. Hal tersebut dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya: “Hukum orang yang hamil yang berat baginya berpuasa adalah seperti orang yang sakit, begitupun terhadap wanita yang sedang menyusui, maka dibolehkan pada dua kondisi tersebut untuk berbuka,”
“Maka bagi siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaklah –berbuka- dan menggantinya pada hari-hari lain.” (Al-Baqoroh:185)

Sebagian sahabat nabi saw. berpendapat, bagi wanita dalam dua kondisi di atas menggantinya dengan fidyah (memberi maka kepada fakir miskin sebanyak hari yang ditinggalkan) dan tidak perlu meng-qadha’nya.
Adapun siapa yang lemah, tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh maka baginya boleh berbuka (tidak puasa) dengan syarat menggantinya dengan fidyah, memberi makan fakir miskin.

“Dan bagi siapa yang tidak mampu maka hendaknya membayar fidyah berupa makan kepada fakir msikin.” (Al-Baqoroh:186)
Ibnu Abbas berkata:
“Telah diringankan bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa untuk berbuka dengan memberikan fidyah setiap hari bagi satu orang miskin.” (Fatwa Islam Tim Permanen, 2/138-ringkasan). [bersambung]

(Al-Ikhwan.net)

Ramadhan Dalam Bingkai Ekonomi



Bulan Ramadhan merupakan moment yang paling strategis bagi umat Islam untuk memperbaiki juga sebagai bahan introspeksi diri setelah melihat berbagai kekurangan-kekurangan yang telah dialami di masa lalu. Selama ini kerap timbul kesan bagi sebagian umat Islam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan berleha-leha menunggu kumandang adzan Maghrib.

Pemahaman seperti ini timbul dari salah baca terhadap makna Ramadhan yang sebenarnya. Secara etimologi, Ramadhan berasal dari akar kata “ramadl” yang berarti “membakar”. Artinya, Ramadhan adalah momentum umat Islam untuk membakar dosa lebih intensif dibandingkan bulan lain, sehingga usaha dan semangat beribadah pun mesti lebih masif dilakukan. Konon, para sahabat mempersiapkan penyambutan Ramadhan selama enam bulan. Enam bulan setelahnya, mereka khusyuk meminta kepada Allah SWT agar ibadah shaum-nya diterima.

Ramadhan adalah bulan suci yang penuh makna, sarat nilai, multi-hikmah dan bermega-pahala. Selain menyehatkan raga dan menenangkan jiwa, berpuasa juga mengajarkan hidup toleran, sederhana, dan bahkan produktif. Tidak hanya itu, Ramadhan turut meletakkan landasan pembangunan ekonomi umat.

Setiap kali Ramadhan datang, kita selalu menaruh harapan besar pada bulan suci itu. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai qur’ani. Tidaklah mengherankan jika tema-tema dakwah Ramadhan selalu mengarah kepada perubahan. Seolah-olah Ramadhan akan merubah segalanya. Kehidupan Politik yang nir etika berubah menjadi kehidupan politik yang berbingkai moral dan berpayung kesantunan. Akhlak yang kerap kali absen dalam kehidupan sosial budaya berubah menjadi kehidupan yang berkeadaban. Demikian pula kehidupan ekonomi kita yang sangat kapitalistik dan abai terhadap dhuafa dan mustadh’afin, berubah menjadi kehidupan ekonomi yang menjunjung nilai-nilai syariah.

Berkah Ekonomi Islam 

Yang sangat menarik, karunia di tengah Ramadhan tidak hanya hal-hal yang berdimensi ukhrawi, tapi aspek keduniaan pun cukup terbuka lebar terutama dimensi ekonomi. Fakta menunjukkan, para pelaku ekonomi meraih pendapatan besar atas kehadiran bulan suci Ramadhan. Tak sedikit di antara umat manusia yang berpuasa ataupun tidak, dari barisan Muslim ataupun umat lainnya merasakan manfaat besar dari kehadiran Ramadhan yang tersirkulasi atau terdistribusi secara menyeluruh, mulai dari wilayah perkotaan hingga pedesaan.

Tak dapat disangkal, roda ekonomi benar-benar tampak hidup selama bulan suci ini. Karena itu, tidaklah berlebihan jika sebagian umat manusia mengharapkan seluruh bulan (sepanjang tahun) menjadi Ramadhan, meski hal ini tidaklah mungkin. Keinginan ini sebagai implikasi positif atas tingkat pendapatan yang menaik tajam dan hal ini berbeda bila diperbandingkan bulan-bulan lainnya.

Apa hubungannya dengan ekonomi Islam? Menurut Ali Sakti pegiat ekonomi Islam BI (Bank Indonesia) menuturkan Ramadhan adalah bulan ekonomi Islam. Pertama, Ramadhan adalah bulan di mana manusia bisa jernih berfikir dan bertindak sehingga dakwah-dakwah tentang manusia yang bersahaja dalam bingkai ekonomi Islam sangat dekat dengan perilaku manusia-manusia Ramadhan. Kedua, Ramadhan menjadi bulan di mana manusia bersemangat menjalankan perintah-perintah Tuhan tanpa banyak bertanya alasan di baliknya. Ketiga, pada Ramadhan manusia tidak atau mungkin kurang mengedepankan hitungan-hitungan cost-benefit material. Pada bulan ini manusia mengedepankan hitungan cost-benefit spiritual, sebagai kompensasi dari kerakusan pada bulan di luar Ramadhan atau memang sebuah kesadaran yang tulus. Kita perhatikan, perilaku sedekah, infak dan zakat meningkat cukup dramatis di bulan ini.

Di sinilah, bulan Ramadhan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat Islam untuk melakukan aktivitas ekonomi sesuai ajaran agamanya: menanggalkan riba (bunga), menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa tidak saja berdimensi ibadah spiritual an-sich, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis. Sungguh aneh apabila ada orang berpuasa dengan khusyuk, tetapi melanggar ajaran-ajaran Allah dalam mu’amalah, seperti masih mempraktekkan riba yang diharamkan atau melakukan penipuan harga yang tidak pantas.

Implementasi aktivitas ekonomi Islam ini diharapkan dapat memperkuat sendi perekonomian umat yang puncaknya akan melahirkan social distributive justice (keadilan distribusi sosial). Harta tidak hanya berputar pada segelintir orang dengan mengoptimalkan konsep zakat, infak, shadaqah dan wakaf.

Spirit Kebangkitan Ekonomi Islam

Dalam konteks historis, bulan Ramadhan merupakan momentum penting dan monumental dalam kebangkitan dan kejayaan Islam. Telah banyak perubahan besar dalam sejarah dakwah Islam yang terjadi pada bulan ini. Ramadhan juga telah mengantarkan Islam tersebar ke semenanjung Afrika dan Eropa. Sementara dalam konteks ibadah, Ramadhan adalah bulan semangat dan motivasi untuk memperbaiki diri dengan sederet ketaatan. Saatnya generasi berikutnya menapaktilasi dan mengukir kembali kemenangan-kemenangan itu, merebut kembali peradaban Islam yang terampas. Maka, meraih peradaban mesti dilakukan dengan memperkuat aspek ekonomi itu. Kebangkitan Islam hanya akan terejawantah dalam wujudnya yang ideal ketika ekonomi Islam dapat membumi dan menjadi landasan aktivitas perekonomian umatnya.

Pesan implisit Ramadhan patut dijadikan masukan dalam membangun perekonomian umat dan bangsa ke depan. Pembangunan harus dimulai dengan membangun nilai nilai ekonomi Islam dalam kehidupan. Pemberdayaan sumber daya rakyat berdasarkan nilai-nilai Qurani harus diprioritaskan.

Gagasan negara sejahtera dapat terwujud, apabila pembangunan fisik dan spiritual (ketaqwaan) harus berjalan seimbang. Inilah model pembangunan ekonomi yang ideal. Selain faktor-faktor produksi, tingkat ketaqwaan juga merupakan “driving force” pembangunan ekonomi umat. Menurut Ramzan Akhtar (1993) dalam artikelnya “Modelling the economic growth of an Islamic economy” yang dipublikasikan di “The American Journal of Islamic Social Science (AJISS)” menyebutkan bahwa tanpa adanya rahmat Ilahi, maka pembangunan ekonomi sangatlah mustahil terjadi. Negara yang dihuni warga muttaqin pasti akan mendatangkan rahmat Ilahi sehingga terwujudlah negara sejahtera. Wallahualam.

Kegiatan Sekolah

Artikel

 

© Copyright SD JUARA YOGYAKARTA 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Jendela Keluarga